Cerita ini kejadiannya hari jumat, 1 Juli kemarin.
"Tadi pagi Aku ke kampus, niatnya mau nyerahin draft kuesioner, dan matriks penelitian. Sebelumnya berangkat , sarapan dulu biar dijalan perutku ga banyak kroncongan. Sempet ragu mau ke nangor apa nggak, soalnya skripsi ini udah aku anggurin hampir seminggu. Untuk memastikan kepergianku ke nangor ga sia-sia, Aku telpon dulu Pak Agus nya. Alhamdulilah telponku disambut baik oleh Pak Agus dan Beliau bersedia menemuiku untuk kuserahkan draft itu. Sayangnya, Beliau bilang “Tapi Saya ga bisa bimbingan ya, soalnya harus nyidang dulu”. Its okay, yang penting Aku ketemu dan nyerahin aja, paling ga setiap harinya ada progress dari skripsiku ini.
Sesampainya disana, jelas saja, Bapaknya sedang sibuk menerima telpon, menerima tamu, lalu kemudian dengan tergesa-gesa segera menuju ruangan siding. Aku yang sudah menunggu di depan lorong dekat ruangan Pak Agus, langsung menghampiri Beliau dan menyatakan maksudku untuk menyerahkan draft itu. Dengan ramahnya, draft ku diterima, dan Beliau segera masuk ke ruangan sidang.
Sayangnya Aku lupa sesuatu, yaitu suatu pertanyaan yang sejak minggu kemarin belum kulontarkan dikarenakan kemalasanku untuk ketemu Dosbing. Aku menunggu di depan ruangan selama beberapa menit, lalu bersama temanku, kami memutuskan untuk menunggu sambil makan di kantin. Sebelum kami bergerak ke kantin, Aku ketemu Pak Dadang, salah satu dosen favoritku. Beliau menanyakan kabar skripsiku sudah sampai mana, Aku bilang saja sedang revisi kuesioner. “Ya Baguslah, si Jeany udah nyebarin kuesioner sekarang” Ucap Pak dadang. “Iya Pak, Saya juga secepatnya” jawabku. Oh iya, Jeany itu teman baikku sejak awal masuk kuliah, kita berdua adalah anak walinya Pak Dadang, dan tiap kali kita mau KRS-an, ngajuin judul, ngajuin pertanyaan, pasti selalu berdua. Pantas saja Kalau Pak Dadang sudah mengenal baik kami. Awalnya Aku minta Pak Dadang untuk jadi dosen pembimbingku, tapi dikarenakan judul penelitianku yang berbeda dari konsentrasinya, maka Aku dialihkan ke Pak Agus.
Setelah di kantin, Aku sempat bertanya-tanya kepada temanku tentang masalah dalam penelitianku, siapa tau saja Dia bisa membantu. Tapi ga begitu membantu sih, dan Aku putuskan untuk mendatangi Pak Dadang, karena Beliau sangat baik, terbuka denganku, saat Jeany sedang bimbingan dengan Pak Dadang, Aku juga ikut dan ikut bimbingan juga. Kenapa Aku berani seperti itu, karena Pak Dadang sendiri yang bilang, “kamu tetep bisa konsultasi dengan Saya kok walaupun Dosen Pembimbing kamu Pak Agus”. (kurang lebih seperti itu).
Temanku, terkesan melarangku untuk bimbingan dengan Pak Dadang, Dia bilang gini “Eh yan, lo beneran mau bimbingan dengan Pak Dadang sekarang? Janganlah! Ga seharusnya lo ambil kesempatan orang lain, Si Manda, Rendy, dan anak bimbingannya yang lain aja susah banget ketemu sama Dia, harusnya lo hargai mereka, meraka anak bimbingannya Pak Dadang, lo kan bukan. mereka aja susah dan suka dimarahin kalo Pak Dadngnya lagi Badmood, ya harusnya lo ngerti posisi mereka lah”. Aku kaget banget temenku bilang gitu. Tapi Aku bales gini “Iya, gw serius mau bimbingan dengan Pak Dadang, kenapa ga boleh, ya boleh-boleh aja lah. Kalo mereka kena marah ya salah mereka berarti, Dan hari ini kan ga ada yang lagi bimbingan dengan Pak Dadang. Beliau lagi santai kok keliatannya. Jadi sah-sah aja dong gw mau bimbingan, salah mereka sendiri kenapa ga tiap hari bimbingannya. Kalo gw sih, kalo bisa tiap hari, ya tiap hari bimbingannya, resiko bolak-balik ya gapapa. Kalo gw dimarahin Pak Dadang karena bimbingan ke Dia, yaudah gapapa, gw malah seneng, berarti kan gw belajar, yang penting kan gw mencoba selagi ada kesempatan. Lagian alhamdulilah selama ini Pak Dadang ga pernah marah tuh sama gw, Dia baik-baik aja, sama Jeany juga ga marah-marah. Kalo Pak Dadang marah sama mereka, berarti mereka ada salah”. Gw jawab gitu aja, soalnya emang kenyatannya gitu, Pak Dadang selama ini memang baik, dan kalo Beliau sedang sibuk, Kami (Aku sama Jeany) bisa ngerti, jadi makanya Pak Dadang ga pernah marah sama kita sampai saat ini. Selain itu, karena Aku sama Jeany udah kenal Pak Dadang dari awal semester, ya bisa dibilang kita udah tahu lah gimana cara ambil hatinya. (Bukannya sombong ya). *dalem hati pas jawab itu, duh mendingan ga usah debat deh kalo gatau apa-apa*
Jadi, pada intinya, Aku kurang suka kalau ada orang yang ga tau apa-apa tiba-tiba komentar dan terkesan menghakimi. Apalagi untuk hal-hal yang kayak gini, Dosen pembimbing itu memang udah ada SK nya untuk membimbing siapa, tapi diluar itu mereka dibayar untuk memberikan ilmu dan pengetahuan ke mahasiswanya dalam bentuk apapun, diskusi, tanya jawab, perkuliahan, dan lain-lain.
Tapi setelah itu, kita cuek-cuekan aja, langsung dialihin ke pembicaraan yang lain.
Hmm, solat jumatnya dah beres, Aku juga segera menuju ke mushola untuk solat zuhur setelah itu langsung menuju gedung mankom bersama temanku tadi. Alhamdulilah Bapaknya lagi baik, lagi-lagi beruntung hari ini. Aku ketok pintu ruangannya, dan minta izin untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang mengganjalku dalam penelitianku. Beliau menanggapiku dengan serius, menerima dengan baik, dan memberikan solusi dari pertanyaan-pertanyaanku.
Ya, hari ini berjalan lancar. Mungkin karena tadi bangun pagi, suasana hati lagi senang, pikiran juga tenang, Dan semua kegiatan pun dilalui dengan mudah, santai, dan menghasilkan sesuatu yang baik.
Yap, itu adalah salah satu pelajaran yang Aku dapat hari ini. Sekian "