Ungkapan Buah jatuh tidak jauh dari pohon sudah sering sekali kita dengar ketika kita berhadapan dengan suatu situasi saat kita melihat perilaku seorang anak yang tidak jauh dengan perilaku orangtuanya. Karena apa yang menjadi prinsip dari orangtuanya itu, secara implisit juga akan diturunkan kepada anaknya. Sehingga sangat tepat sekali ungkapan pepatah diatas.
Dapat pula kita jumpai ketika orang Palembang yang bertemu dengan orang Padang. Apa yang menjadi pegangan seseorang, kebiasaannya, perilakunya dengan orang lain, tingkah lakunya, pola pikirnya, tentu merupakan cerminan dari orang-orang terdekatnya. Lingkungan seseorang itu dibesarkan dan pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya juga secara tidak langsung akan membentuk pola perilaku seseorang tersebut.
Dapat pula kita jumpai ketika orang Palembang yang bertemu dengan orang Padang. Apa yang menjadi pegangan seseorang, kebiasaannya, perilakunya dengan orang lain, tingkah lakunya, pola pikirnya, tentu merupakan cerminan dari orang-orang terdekatnya. Lingkungan seseorang itu dibesarkan dan pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya juga secara tidak langsung akan membentuk pola perilaku seseorang tersebut.
Sebagai contoh, ada satu keluarga yang kaya, terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak. Tiap akhir pekan selalu pergi liburan dan selalu menganggap remeh orang-orang dibawahnya. Suatu hari, anaknya diterima di suatu Perguruan Tinggi. Ketika anaknya tersebut berinteraksi dengan teman-temannya, tentu saja kehidupan dan gayanya yang selangit tidak lepas dari tiap kegiatannya. Di depan teman-temannya, Dia menyombongkan jam tangan baru, tas baru, jam baru, bahkan mobil baru. Tak jarang kalau ketemu dengan orang yang gayanya tidak lebih baik dari Dia, secara spontan langsung Dia ikut mengomentari. Ada juga yang berasal dari keluarga yang pelit, ketika anaknya berinteraksi dengan orang lain, secara tidak langsung, anak itupun akan mengaplikasikan “ilmu pelit” nya itu kepada teman-temannya. Atau seorang anak yang berasal dari keluarga sederhana, ketika anak tersebut berada di tengah-tengah masyarakat, tentunya sifat merakyat dan sederhana akan terpancar pula ketika anak tersebut berada di lingkungannya.
Yap, contoh-contoh diatas adalah beberapa hal nyata yang sering kita temui di sekitar kita. Bukannya jelek atau malah bagus sifat-sifat seperti itu. Tentu saja kita juga tidak punya kendali untuk memaksakan seseorang untuk bertingkah laku sesuai dengan kemauan kita, sesuai dengan kebiasaan kita, sesuai dengan adat kita. Semua itu sudah menjadi suatu hal yang mendarah daging. Kenapa begitu? Ya karena itu sudah menjadi sifat dasar manusia itu sendiri dan merupakan turunan keluarganya.
Selain faktor lingkungan, terdapat juga faktor budaya yang mempengaruhinya. Misalnya orang Sumatra yang terkenal dengan sifatnya yang keras, orang Sunda yang terkenal dengan lemah lembut, orang Jawa yang terkenal dengan sifat pekerja kerasnya. Selain itu, banyak juga yang kita kenal hal-hal lainnya, seperti orang Padang yang katanya agak pelit, orang Batak yang katanya galak, dan lain-lainnya. Semua itu hanya berdasarkan persepsi masing-masing orang, nyatanya ada orang Padang yang tidak pelit, ada orang Batak yang tidak galak.
Pandangan kita mengenai siapa kita, bagaimana sifat dan watak kita, juga mempengaruhi cara kita mempersepsi lingkungan fisik dan sosial kita. Kaum muslim misalnya, berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan karena mereka diberkahi akal. Semua itu tergantung bagaimana pandangan kita dan persepsi kita. Persepsi kita sering tidak cermat. Salah satu penyebabnya adalah asumsi atau pengharapan kita.
Beberapa bentuk kekeliruan dan kegagalan persepsi itu adalah:
1. Kesalahan Atribusi
Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya, kita mengamati penampilan fisik mereka. Faktor seperti usia, gaya pakaian, dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka. Kita menduga cowok yang berambut gondrong, memakai anting sebelah sebagai seorang cowok yang nakal, padahal dugaan kita tidak selalu benar. Salah satu kesalahan atribusi lainnya yaitu kekuranglengkapan informasi atau objek yang dipersepsi.
2. Efek halo
Efek halo merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita dengan sifat-sifatnya. Kesan menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang biasanya sulit digoyahkan dan berpengaruh kuat. Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin menemukan sifat positif yang menonjol pada seseorang, misalnya bahwa orang itu jujur, periang, dan murah hati. Dengan melihat sifat positifnya, kita merasa hampir tidak mungkin orang itu memiliki sifat negatif. Orang bisa saja optimis, jujur, ikhlas, tetapi juga agresif. Kita bisa salah tafsir, melihat seseorang yang agresif yang kita anggap juga tidak tulus dan tidak jujur.
Pendek kata, oleh karena setiap individu itu unik, dan budaya yang dianutnya berbeda-beda, dalam mempersepsi manusia, sebaiknya kita tidak membuat pengelompokkan yang kaku.
3. Stereotip
Stereotip yaitu menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarkan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok. Beberapa contoh Stereotip, antara lain: laki-laki berpikir logis, wanita bersikap emosional, orang yahudi cerdas, orang batak kasar, orang berkacamata minus jenius.
Pada umumnya, stereotip bersifat negatif. Stereotip tidak berbahaya sejauh kita simpan di dalam kepala kita sendiri. Akan tetapi bahayanya sangat nyata bila stereotip diaktifkan dalam hubungan manusia. Bila seorang pembicara diperkenalkan sebagai ahli dalam suatu bidang, ia akan lebih persuasif dibandingkan kalau ia tidak diperkenalkan, karena ia akan lebih termotivasi untuk membuktikan bahwa ia seorang ahli, sementara khalayak pendengar pun berharap dibangkitkan oleh opini seorang ahli.
4. Prasangka
Prasangka adalah sikap tidak adil terhadap seseorang atau suatu kelompok, misalnya Laura menemukan bahwa Ahmad, lelaki yang baru ia jumpai seorang muslim, ia akan menstereotipkannya bila ia memandangnya semata-mata berdasarkan persepsinya atas kepercayaan Muslim mengenai wanita alih-alih berdasarkan perilaku individual Ahmad.
Bila kita berprasangka bahwa orang berkulit hitam malas, orang Cina mata duitan, wanita sebagai objek seks, politikus itu penipu, tanpa didukung oleh data yang memadai dan akurat, komunikasi kita akan sering macet karena berlandaskan persepsi kita yang keliru, yang pada gilirannya membuat orang lain juga salah mempersepsi kita.
Cara terbaik untuk mengurangi prasangka adalah dengan meningkatkan kontak dengan mereka dan mengenal mereka lebih baik.
5. Gegar Budaya
Gegar budaya merupakan suatu bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri yang merupakan reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru. Gegar budaya sering dikaitkan dengan sesuatu yang baru seperti memasuki suatu budaya baru, lingkungan baru, mertua baru, keluarga besar baru, dan lainnya. Sebagai contoh, Kaum pria Indonesia yang berharap melihat wanita-wanita Arab yang cantik akan kecewa ketika mereka datang ke Arab Saudi dan melihat para wanita hanya berada di dalam rumah, kalaupun mereka keluar rumah pun, mereka mengenakan cadar dan hanya memperlihatkan kedua mata mereka.
Yap, dari beberapa kekeliruan diatas, hendaknya kita jangan memandang budaya orang lain dengan menggunakan standar budaya sendiri. Suatu alasan mengapa kita kurang terampil berkomunikasi dengan sesama orang Indonesia yang berbeda etnik adalah karena kita kurang berempati, selain kita pun tidak terbiasa berbeda pendapat dengan mereka.
Ini ada beberapa TIPS untuk berkomunikasi Antarbudaya:
1. Kita harus selalu menunda penilaian kita atas pandangan dan perilaku orang lain, karena penilaian kita seringkali bersifat subjektif. Jangan biarkan stereotip menjebak kita.
2. Kita harus berempati dengan mitra komunikasi kita, berusaha menempatkan diri kita pada posisinya.
3. Kita dituntut untuk selalu tertarik kepada orang lain sebagai individu yang unik bukan sebagai anggota dari suatu kategori sosial, suku, dan agama tertentu.
4. Kita menguasai setidaknya bahasa verbal (lisan) dan bahasa nonverbal (gerak tubuh,dll) dan system penilaian yang mereka anut.
Sekian, Semoga bermanfaat.. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar