Cerita Sore sebelum pulang kantor..
Selama perjalanan naik motor menuju ke kantor, saya selalu terngiang bahwa hari ini saya akan dipojokkan dan menjadi hari yang buruk. Ada rasa ingin menghindar, tapi tidak bisa. Karena Hari ini harus dilalui dengan Rapat.
Hari ini jam 10.00 WIB, kami selaku Vendor mengadakan Rapat dengan Pihak Bank klien kami di Ruang Rapat Lantai 3. Yang hadir Saya, 2 Tim Teknisi, dan 3 orang dari Pihak Bank klien kami. Dalam rapat tersebut kami lebih fokus membahas mengenai Text Inserter yang belum bisa tampil pada rekaman. Ya, karena kami vendor Text Inserter dan CCTV ATM Bank tersebut.
Bapak E (sebut saja namanya begitu). Tidak ada basa basi, pakai Asslamualaikum, dll langsung to the point mencecar kami dengan berbagai pertanyaan yang sedikit menyudutkan seolah-olah kami tidak ada progress. Panjang lebar dia bicara, cuma saya angguk dan iyakan saja. Di tengah pembicaraannya, saya potong " Pak, boleh saya menjelaskannya dengan bantuan power point yang saya buat?" Oh iya silahkan, jawabnya. Satu per satu saya jelaskan per slide apa yang menjadi laporan kami dan kendalanya bagaimana. Ada bagian yang membuat mereka senang karena kami sudah mencoba di lapangan ternyata Text Jurnal tampil walau settingnya Paper, harusnya Dual. Mereka sumringah dan banyak komentar bagus mengenai itu. Tapi nampaknya tidak terlihat seperti sesuatu yang menarik bagi mereka karena mereka teringat dengan yang jelek-jeleknya saja. Cukup ambil nafas panjang, sodorkan telinga panjang-panjang dan lemparkan senyum seolah kami ini sangat patuh dengan mereka.
Bank klien kami juga punya vendor ATM. Antara kami dan vendor ATM ada beberapa kendala teknis. jadi bisa dibilang agak sedikit slek diantara kami. Seharusnya Bank klien kami menengahi kami, secara lisan memnag begitu, tapi pemilihan kata-katanya seolah-olah sangat memojokkan kami. rasanya ingin sekali menyumpal mulut Bapak itu, tapi yasudahlah, didengerkan saja.
Banyak sekali yang Dia angkat seolah menjadi kami tersangka. Dia terkesan mengancam kami. Dan terkesan mendiskriminasi kami tidak mampu memberikan solusi bagi mereka. Nyatanya tidak sepenuhnya seperti itu. Kami berusaha semaksimal mungkin dengan fasilitas yang diberikan oleh Perusahaan kami disini. Tapi sejujurnya memang saya sadari, bahwa Tim teknisi kami memang tergolong baru dan bukan ahli di bidangnya. Tapi kami belajar, kami mandiri dan mencari solusi dari apa yang terjadi di lapangan. Kami menguatkan tim kami sendiri. Jujur saja, mungkin agak sedikit aneh, karena pekerjaan kami ini full dengan IT, tapi saya sendiri sebagai Koordinator hanya mengandalkan kerajinan dan kemampuan komunikasi saya saja, tidak ada keahlian khusus di bidang IT. Ya saya sebenarnya merasakan bahwa dari perusahaan saya sendiri, proyek Bank ini bisa dikatakan kecil dibandingkan dengan proyek yang lain yang nilainya mencapai puluhan Milyar. Tapi bagi Bank Klien kami, ini sesuatu yang besar dan harus dipertanggungjawabkan dengan baik dan pasti.
Saya sudah mencoba ingin mengecek ke lokasi, namun sepertinya saya belum bisa meninggalkan kantor karena kantor ini tidak ada admin yang stand by, Saya ingin ikut mereka ke lokasi saat menlakukan maintenance dan menyaksikan atau turut serta mengerjakan maintenance tersebut. Sudah saya rencanakan, mudah-mudahan bisa terlaksana dalam waktu dekat ini. Saya ingin punya standar pekerjaan dan ingin punya prestasi yang baik di mata perusahaan saya dan di mata Bank klien saya ini. Ingin sekali. Mudah-mudahan tercapai dan konsisten. Saya ingin sekali menunjukkan dan mematahkan pemikiran Bapak E tentang kami, terutama tentang saya. Dia kira kerjaan saya cuma duduk saja. No!!!!! saya duduk bukan cuma sekedar duduk, Saya mengkoordinasikan tim saya, tiap hari ada saja budgetting yang saya buat, surat keluar yang buat, merekap barang masuk dan keluar yang dibawa oleh teknisi atau dikirim dari jakarta, menyusun laporan petty cash, koordinasi lewat email dengan beberapa pihak, merekap surat, membuat surat tugas, membuat rekap maintenance, saya monitoring cctv dari kantor, merekap hasil korektif maintenance dan lainnyaa. Banyak sekali yang perlu saya lakukan disini. Apalagi kalau tim saya sedang ke lapangan semua, ga mungkin sekali bisa keluar kantor dalam waktu yang lama, saya harus standby. Saya rasanya tidak terima kalau dibilang saya cuma duduk saja. Ga terima. Saya minta ditambah orang ga dikasih, semuanya saya sendirian yang kerjain walau ada beberapa juga yang pastinya dibantu oleh teman-teman saya dan Rekan dari Jakarta juga, tapi tidak cukup membantu semuanya.
Jadi saya harus bertahan dan menunjukkan saya bisa, tapi saya tidak mau dikerdilkan oleh orang yang hanya melihat saya dari sudut pandang mereka sendiri saja. Semoga tetap tegar dan konsisten aja nih saya.Mudah-mudahan..
Sekian curhat sesi sore sebelum pulang..