Jumat, 14 Agustus 2015

Ibuku tak sehebat Ibumu, tapi Dia Pahlawanku

Sosok seorang Ibu memang selalu menjadi perhatian. Mulai dari perjuangannya saat hamil, melahirkan sampai dengan membesarkan kita. Banyak cerita-cerita inspiratif mengenai sosok Ibu yang berhasil menggugah hati orang banyak, minimal hati anak dan keluarganya sendiri. Untuk yg Ibunya tidak ada lagi atau tidak terlalu baik, mungkin akan iri mendengar cerita tentang Ibu temannya yg jauh lebih baik dari Ibunya. Namun, masing-masing Ibu punya ceritanya sendiri untuk menjadi inspiratif..


Ibuku salah satunya...



Semakin hari saya semakin menyayanginya, terlebih lagi ketika saya merasakan hamil. Terlintas di benak saya perjuangan Ibu saya dahulu. Walaupun memang ada beberapa bagian yang membuat saya jengkel kepada Ibu. nlNamun semuanya sirna setelah Ibu menunjukkan sikap sabarnya dan kasih sayangnya yang begitu ikhlas mencintaiku. Terkadang ada rasa iri dengan Ibu temanku yang pendidikannya lebih tinggi, koleganya lebih banyak, dan pemikirannya lebih kritis, sehingga Ia bisa membimbing anaknya menuju kesuksesan. Terlebih lagi Ibu temanku bekerja dan mampu membeli apapun yang ia inginkan, terkadang membuat aku iri dan tidak bangga pada Ibuku sendiri.



Tapi Aku salah, ibuku tidak memilih untuk menjadi seperti ini. Tapi Ibuku selalu bilang "Nak, inilah kemampuan Ibu dan Bapakmu. Biarlah kami dulu tidak bisa sekolah tinggi karena orangtua kami tidak mampu. Tapi kami kerja keras sekarang, yang penting kamu dan kakakmu bisa sampai sekolah sampai ke Perguruan Tinggi. Biar kalian tidak malu sama kami, supaya kalian nasibnya lebih baik dari kami dan juga dapat suami yang lebih baik. Kalau kalian minta ajarkan kami berhitung dan diskusi tentang pelajaran, mungkin kami tidak bisa membantu banyak, tapi doa kami tidak pernah putus kepada Allah SWT supaya kalian sukses tidak bernasib seperti kami."



Ya, itulah yang seringkali dikatakan oleh Ibuku. Sekarang Ibu dan Ayahku sudah berumur diatas 50tahun, badan sudah mulai renta, sudah agak pelupa, dan fisik tidak sekuat dahulu untuk mencari nafkah. Ayahku hanya seorang pensiunan yang gajinya hanya cukup untuk menyambung makan selama sebulan, membayar tarif listrik dan telepon. Sedangkan Ibu masih menjahit untuk menambah uang bulanan. Orang-orang melihat mereka mempunyai rumah besar dan nyaman. Ya benar. Tapi orang-orang tidak tahu bahwa uang membangun rumah itu adalah uang pensiun Ayah saya yang sengaja dibangunkan untuk rumah besar agar masa tua mereka tenang, nyaman, sesekali bisa berkebun disamping rumah atau beternak ayam. Biarlah makan sehari-hari sederhana, asal anak cucu bahagia. 



Saat ini, kondisi orangtuaku tidak memungkinkan untuk menghidupi anaknya lagi, atau memberi uang bulanan seperti anak-anaknya kuliah dulu. Gaji pensiun Ayahku hanya cukup untuk menyambung hidup mereka berdua. Makanya, sedih rasanya jika masih ada orang yang memandang sebelah mata orangtua saya. Menganggap mereka masih mampu tapi tidak tahu keadaan sebenarnya. Mereka mungkin masih ada simpanan rumah, sudah sering mereka ingin menjualnya agar bisa memberi warisa ke anak-anaknya, dan bisa menikmati hidup lagi seperti sebelumnya, tapi tidak mudah untuk mencari orang yang mau membelinya, butuh WAKTU.



Ketika aku bertemu orang yang mengkerdilkan kemampuan ekonomi orangtuaku, rasanya kesal, merasa jengkel dengan orang itu. Inilah keadaan orangtuaku, yang tidak bisa dibandingkan dengan keadaan orangtuamu yang lebih mampu dan masih punya pekerjaan. Jika aku ingin mengganti uang orangtuaku yang telah dia belikan sesuatu untukku, aku merasa hal itu harus, karena aku tau bagi mereka uang sebesar itu susah mendapatkannya lagi. Bagi mereka uang itu berharga. Mereka hanya berusaha terlihat baik-baik saja.



Ya itulah orangtua, mereka selalu ingin merahasiakan sesuatu jika keadaan mereka tidak mampu. Tapi berbeda dengan orangtua yang mampu, mereka selalu menunjukkan sesuatu karena mereka mampu..



PS: untuk seseorang yang membandingkan orangtuaku dengan orangtuanya

Minggu, 01 Maret 2015

My First Posting in 2015, READ THIS !!!!!

Postingan kali ni, didorong oleh Suami saya sebagai Silent Reader (yang sebenarnya saya tahu setiap saya posting sesuatu pasti bakal dbaca sama dia, Hhahaha...) yang sudah rindu dengan cerita saya di blog sejak postingan terakhir dua bulan lalu..
Nih saya lagi dua-duaan sama suami di sebuah tempat nongkrong elite di Jakarta yang ngasih fasilitas Wi-fi Gretong. Hhaha.. iya sih seneng banget saya bisa Online lagi karena semenjak tinggal di Jakarta hampir 1,5 bulan yang lalu. Saya fakir Internet nih soalnya tempat tinggal saya dan suami di Jakarta dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit yang tingginya ga cuma 10 lantai. Dan menurut analisis kami, dikarenakan ketinggian gedung-gedung tersebut yang melebihi kapasitas, akhirnya menyebabkan sinyal yang dipancarkan oleh Satelit Provider yang kami pakai tidak bisa langsung memancar ke HP yang kami pakai sehingga kami jadi fakir Internet kalo lagi dirumah. Pengamatan Ngaco.. lupain..

Tahun 2015 ini sangat istimewa buat saya dan suami. Karena kami benar-benar dipersatukan secara utuh dalam satu atap. Ceilee.. iya dong, sebelumnya kita jauh-jauhan dulu. Kadang suami yang ke Palembang ato saya yang main ke Jakarta. Nah sekarang, bedaaaa.. Apalagi hasil dua-duaan kami setelah resmi jadi Pasutri sangat dirahmati dan diridhoi oleh Allah SWT sehingga terciptalah sebuah kehidupan baru didalam rahim yang bisa kita sebut namanya adalah si Fulan. Iyaa kita dikasih kepercayaan buat jadi orangtua (InsyaAllah.. Aamiin). 

Selama proses hamil ini, akhirnya saya tahu pelan-pelan bagaimana rasanya Mama saya dulu mau ngelahirin saya. At least untuk semua Ibu di dunia.. Pelan-pelan sadar diri juga, ngurangin ngelawan orangtua, lebih ramah sopan, dan lain-lain. soalnya baru kerasa Perjuangannya. 

Selama Nikah ini juga, aseliiiiiii banyaaaaaakk bangeeeettt yang perlu saya sesuaikan dengan suami. Saya tidur jarang pakai kipas, suami harus pakai kipas. Saya biasanya jarang makan roti dengan selai stroberi, akhirnya mulai menyesuaikan untuk menyukai juga. Teruss.. Saya suka sambel merah, suami suka sambel ijo donggg. Saya suka masakan yang ga terlalu kerasa kaldunya, suami malah suka banget, katanya lebih kresss gimana gituh ya. dan juga selera tentang "Telor". Saya sukanya telor dadar yang dimasak ga terlalu garing, yang kuningnya masih cair-cair dikit. Nah kalo suami, sukanya telor mata sapi digoreng garing sampe agak mutung dikit, kemudian ditaburin garam diatasnya, baru enak dimakan katanya. Heuuu..... Well, banyak penyesuaian diantara kita dan semuanya harus pelan-pelan.

Sama pengalaman lainnya adalah, kemana-mana kita harus naik angkutan umum atau kalo lagi nasib fulus berlebih naik taksi jadi pilihan terbaik. Hehehe... Padahal kita berdua sama-sama bisa bawa mobil dan motor. Tapi dinikmatin ajalah yaa.. Kayaknya Rumah Tangga baru yang dijalani semuanya dari Nol, kedepannya bakal jadi lebih berkesan dan bisa membuat kita mengerti arti "Perjuangan". Dimana tidak semuanya bisa didapatkan dengan mudah dan kamu harus melakukan sesuatu dulu untuk mencapainya. Yeaaahhh...!!!!! Hidup adalah Perjuangan.

Itulah secuil kisah saya dan suami yang mau saya ceritain kali ini dengan memanfaatkan Wi-fi gretong dari salah satu tempat nongkrong elite di Jakarta. Hahahaha.

Dah sekian yaa. Udah malem.. Waktunya saya dan suami pulang dan dua-duan lagi dirumah,, Hehehheee...

Wassalaaammm...