Senin, 02 Mei 2011

Komunikasi Oh Komunikasi


Komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan. Komunikasi itu berguna ketika kita ingin menyampaikan sesuatu tentang apapun kepada siapapun. Komunikasi dapat disampaikan melalui alat komunikasi seperti telepon, sms, email, televise, dan lain-lain.

Thomas Scheidel mengatakan bahwa kita berkomunikasi untuk menyatakan, mendukung identitas diri, untuk membangun kontak social dengan orang di sekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang kita inginkan. Menurutnya, tujuan dasar kita berkomunikasi adalah untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologis kita.

Kalo menurut analisis Saya, dengan kita melakukan komunikasi maka akan membuat hidup kita lebih bahagia. Kenapa? Karena ketika kita berkomunikasi, kita berusaha menyampaikan apa yang sedang kita rasakan, kira pikirkan, dan kira rencanakan. Justru orang yang jarang berkomunikasi bisa jadi “gila” karena tidak bisa menyalurkan apa yang sedang dirasakannya.

Ketika Anda sedang merasa jatuh cinta, katakan saja Anda suka. Jangan sungkan-sungkan, karena adalah hal yang wajar ketika kita menyatakan perasaan, tidak ada yang salah dengan itu. Pernyataan itu kita sepakati sebagai pengungkapan refleksi hati. Ada orang, karena saking memendam perasaannya, jadi uring-uringan sendiri, bingung sendiri mau gimana, perasaannya ga tenang, pas ketemu Doi grogi minta mapun, ya serba salah deh. Coba kalo diungkapin, entah pernyataan itu dijawab pula dengan pernyataan suka atau tidak, ya nggak masalah. Karena pada intinya, yang ditekankan adalah salah satu bentuk komunikasinya. Coba liat, orang-orang yang berani berkata jujur atas perasaannya, biasanya menjalankan hidup lebiih enteng, karena sudah tidak ada beban lagi dihatinya. Dia bisa tertawa bahagia atau menangis sedih. Ya, itu bentuk pelepasan emosi karena telah dilakukannya komunikasi.

Jelas sekali komunikasi itu penting. Dalam situasi apapun dan dimanapun.

Bayi saja berkomunikasi kok, ketika Bayi ingin ngompol atau mimik susu, cara Bayi menyampaikan pesannya adalah dengan menangis. Dalam hal ini Si Bayi menggunakan bahasa nonverbal. Ketika kita baru saja menginjakkan kaki di Kota yang tidak kita kenal, otomatis, kita akan bertanya dengan orang tentang alamat yang ingin kita tuju. Ya, sekali lagi, itu contoh kecil komunikasi, dan terjadi dimana-mana.

Saya kadang tidak setuju dengan pendapat teman-teman Saya dari Fakultas lain yang seringkali mengejek tentang Komunikasi. Mereka bilang “Ngapain jauh-jauh kuliah di Bandung Cuma buat belajar ngomong doing?!”. Helllooooo Guysss.. Saya juga bisa kok balik Tanya, misalnya “Ngapain jauh-jauh kuliah di Fakultas Perikanan buat jadi tukang Ikan/Peternak Ikan doing?!”. Tapi sayangnya, mbok ya cerdas dikit toh bikin pernyataan. Makanya Allah menciptakan banyak sekali ragam ilmu di dunia ini, dna membiarkan banyak manusia bereproduksi, ya pada intinya agar kita saling belajar dan saling berbagi satu sama lainnya. Pada intinya kita semua sama kok dimata Allah, sama-sama mencari pengetahuan. Dan Allah suka hamba-Nya yang selalu mencari ilmu.

Jadi, sekali lagi, Komunikasi itu bisa kita gunakan di berbagai macam kegiatan dan kondisi apapun. Bidang ilmu apapun pasti menggunakan komunikasi. Pengusaha memakai jasa seorang Marketing untuk mengkomunikasikan produknya, Presiden berpidato untuk menyampaikan sukacita karena Indonesia merdeka, Artis memakai jasa televise untuk mempromosikan album barunya, Dan seorang tukang sol sepatu pun berkomunikasi saat berkeliling. Semua bentuk kegiatan di dunia ini menggunakan komunikasi, baik komunikasi verbal, nonverbal, melalui symbol, tanda, komunikasi melalui media, dan lain-lain.

Selain itu, komunikasi dapat membantu kita mencapai tujuan kita dan memecahkan masalah kita. Sebagai contohnya, Ada seorang mahasiswa yang sedih karena Dosen pembimbing untuk skripsi  yang di requestnya tidak disetujui oleh Ketua Jurusannya. Padahal Dosen tersebut dapat membantu mahasiswa tersebut mendapatkan kemudahan saat akan penelitian di tempat objek penelitiannya. Karena sedih, mahasiswa itupun cuma bisa menerima dan diam karena bisa dapat akses darimana lagi kalau tidak dari Dosen Pembimbing yang di requestnya itu. Beberapa hari mahasiswa itu tidak bersemangat karena bingung apakah nanti penelitiannya akan berhenti di tengah jalan karena sulitnya mendapatkan akses. Pada suatu hari, si mahasiswa tersebut mencoba berkomunikasi dengan Ketua Jurusannya itu terkait dengan hambatan dalam penelitiannya, secara detail mahasiswa itu ceritakan. Ketua Jurusannya pun menertawakan mahasiswa itu, dan bilang jangan takut. Kamu bisa mendapatkan akses itu dari Saya. Yap, itulah salah satu contoh keberhasilan komunikasi. Ketika kita hanya memendamnya saja, tidak akan ada ilham yang datang, sedangkan ketika mahasiswa itu mencoba mengkomunikasikannya dengan jelas, tentu akan terjadi pertukaran informasi dan pikiran sehingga bisa diambil jalan keluar yang baik pula.

So, komunikasi itu penting loh. Komunikasi bisa menunjukkan identitas diri kamu, komunikasi bisa menjadi pernyataan eksistensi kamu, dan dengan komunikasi bisa memudahkan kelangsungan hidup kamu, memupuk hubungan dan memperoleh kebahagiaan buat kamu.

Ga masalah kita di bidang apapun, konsentrasilah pada bidang kita masing-masing. Tiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Mungkin saat ini saya ahli di dalam komunikasi dan tidak ahli di bidang IT. Atau mungkin Anda yang sekarang Ahli di bidang kedokteran tetapi tidak ahli di bidang komunikasi. Gapapa, itu udah jalan hidup kita, kita yang memilih itu, dan tentunya kita akan sukses di bidang kita masing-masing.

So Guys, buang jauh-jauh pemikiran kalo kita jauh lebih baik dari Dia, Dia, dan Dia. Kita sama kok. Hanya jalannya saja yang berbeda…

Persepsi dan Kekeliruan Komunikasi


Ungkapan Buah jatuh tidak jauh dari pohon  sudah sering sekali kita dengar ketika kita berhadapan dengan suatu situasi  saat kita melihat perilaku seorang anak yang tidak jauh dengan perilaku orangtuanya. Karena apa yang menjadi prinsip dari orangtuanya itu, secara implisit juga akan diturunkan kepada anaknya. Sehingga sangat tepat sekali ungkapan pepatah diatas. 


Dapat pula kita jumpai ketika orang Palembang yang bertemu dengan orang Padang. Apa yang menjadi pegangan seseorang, kebiasaannya, perilakunya dengan orang lain, tingkah lakunya, pola pikirnya, tentu merupakan cerminan dari orang-orang terdekatnya. Lingkungan seseorang  itu dibesarkan dan pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya juga secara tidak langsung akan membentuk pola perilaku seseorang tersebut.

Sebagai contoh, ada satu keluarga yang kaya, terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak. Tiap akhir pekan selalu pergi liburan dan selalu menganggap remeh orang-orang dibawahnya. Suatu hari, anaknya diterima di suatu Perguruan Tinggi. Ketika anaknya tersebut berinteraksi dengan teman-temannya, tentu saja kehidupan dan gayanya yang selangit tidak lepas dari tiap kegiatannya.  Di depan teman-temannya, Dia menyombongkan jam tangan baru, tas baru, jam baru, bahkan mobil baru. Tak jarang kalau ketemu dengan orang yang gayanya tidak lebih baik dari Dia, secara spontan langsung Dia ikut mengomentari. Ada juga yang berasal dari keluarga yang pelit, ketika anaknya berinteraksi dengan orang lain, secara tidak langsung, anak itupun akan mengaplikasikan “ilmu pelit” nya itu kepada teman-temannya. Atau seorang anak yang berasal dari keluarga sederhana, ketika anak tersebut berada di tengah-tengah masyarakat, tentunya sifat merakyat dan sederhana akan terpancar pula ketika anak tersebut berada di lingkungannya.

Yap, contoh-contoh diatas adalah beberapa hal nyata yang sering kita temui di sekitar kita. Bukannya jelek atau malah bagus sifat-sifat seperti itu. Tentu saja kita juga tidak punya kendali untuk memaksakan seseorang untuk bertingkah laku sesuai dengan kemauan kita, sesuai dengan kebiasaan kita, sesuai dengan adat kita. Semua itu sudah menjadi suatu hal yang mendarah daging. Kenapa begitu? Ya karena itu sudah menjadi sifat dasar manusia itu sendiri dan merupakan turunan keluarganya.

Selain faktor lingkungan, terdapat juga faktor budaya yang mempengaruhinya. Misalnya orang Sumatra yang terkenal dengan sifatnya yang keras, orang Sunda yang terkenal dengan lemah lembut, orang Jawa yang terkenal dengan sifat pekerja kerasnya. Selain itu, banyak juga yang kita kenal hal-hal lainnya, seperti orang Padang yang katanya agak pelit, orang Batak yang katanya galak, dan lain-lainnya. Semua itu hanya berdasarkan persepsi masing-masing orang, nyatanya ada orang Padang yang tidak pelit, ada orang Batak yang tidak galak.

Pandangan kita mengenai siapa kita, bagaimana sifat dan watak kita, juga mempengaruhi cara kita mempersepsi lingkungan fisik dan sosial kita. Kaum muslim misalnya, berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan karena mereka diberkahi akal.  Semua itu tergantung bagaimana pandangan kita dan persepsi kita. Persepsi kita sering tidak cermat. Salah satu penyebabnya adalah asumsi atau pengharapan kita.


Beberapa bentuk kekeliruan dan kegagalan persepsi itu adalah:
1.       Kesalahan Atribusi
Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya, kita mengamati penampilan fisik mereka. Faktor seperti usia, gaya pakaian, dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka. Kita menduga cowok yang berambut gondrong, memakai anting sebelah sebagai seorang cowok yang nakal, padahal dugaan kita tidak selalu benar. Salah satu kesalahan atribusi lainnya yaitu kekuranglengkapan informasi atau objek yang dipersepsi.

2.       Efek halo
Efek halo merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita dengan sifat-sifatnya. Kesan menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang biasanya sulit digoyahkan dan berpengaruh kuat. Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin menemukan sifat positif yang menonjol pada seseorang, misalnya bahwa orang itu jujur, periang, dan murah hati. Dengan melihat sifat positifnya, kita merasa hampir tidak mungkin orang itu memiliki sifat negatif. Orang bisa saja optimis, jujur, ikhlas, tetapi juga agresif. Kita bisa salah tafsir, melihat seseorang yang agresif yang kita anggap juga tidak tulus dan tidak jujur.
Pendek kata, oleh karena setiap individu itu unik, dan budaya yang dianutnya berbeda-beda, dalam mempersepsi manusia, sebaiknya kita tidak membuat pengelompokkan yang kaku.

3.       Stereotip
Stereotip yaitu menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarkan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok.  Beberapa contoh Stereotip, antara lain: laki-laki berpikir logis, wanita bersikap emosional, orang yahudi cerdas, orang batak kasar, orang berkacamata minus jenius.
Pada umumnya, stereotip bersifat negatif. Stereotip tidak berbahaya sejauh kita simpan di dalam kepala kita sendiri. Akan tetapi bahayanya sangat nyata bila stereotip diaktifkan dalam hubungan manusia. Bila seorang pembicara diperkenalkan sebagai ahli dalam suatu bidang, ia akan lebih persuasif dibandingkan kalau ia tidak diperkenalkan, karena ia akan lebih termotivasi untuk membuktikan bahwa ia seorang ahli, sementara khalayak pendengar pun berharap dibangkitkan oleh opini seorang ahli.

4.       Prasangka
Prasangka adalah sikap tidak adil terhadap seseorang atau suatu kelompok, misalnya Laura menemukan bahwa Ahmad, lelaki yang baru ia jumpai seorang muslim, ia akan menstereotipkannya bila ia memandangnya semata-mata berdasarkan persepsinya atas kepercayaan Muslim mengenai wanita alih-alih berdasarkan perilaku individual Ahmad.
Bila kita berprasangka bahwa orang berkulit hitam malas, orang Cina mata duitan, wanita sebagai objek seks, politikus itu penipu, tanpa didukung oleh data yang memadai dan akurat, komunikasi kita akan sering macet karena berlandaskan persepsi kita yang keliru, yang pada gilirannya membuat orang lain juga salah mempersepsi kita.
Cara terbaik untuk mengurangi prasangka adalah dengan meningkatkan kontak dengan mereka dan mengenal mereka lebih baik.

5.       Gegar Budaya
Gegar budaya merupakan suatu bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri yang merupakan reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru. Gegar budaya sering dikaitkan dengan sesuatu yang baru seperti memasuki suatu budaya baru, lingkungan baru, mertua baru, keluarga besar baru, dan lainnya. Sebagai contoh, Kaum pria Indonesia yang berharap melihat wanita-wanita Arab yang cantik akan kecewa ketika mereka datang ke Arab Saudi dan melihat para wanita hanya berada di dalam rumah, kalaupun mereka keluar rumah pun, mereka mengenakan cadar dan hanya memperlihatkan kedua mata mereka.

Yap, dari beberapa kekeliruan diatas, hendaknya kita jangan memandang budaya orang lain dengan menggunakan standar budaya sendiri. Suatu alasan mengapa kita kurang terampil berkomunikasi dengan sesama orang Indonesia yang berbeda etnik adalah karena kita kurang berempati, selain kita pun tidak terbiasa berbeda pendapat dengan mereka.

Ini ada beberapa TIPS untuk berkomunikasi Antarbudaya:
1.       Kita harus selalu menunda penilaian kita atas pandangan dan perilaku orang lain, karena penilaian kita seringkali bersifat subjektif. Jangan biarkan stereotip menjebak kita.
2.       Kita harus berempati dengan mitra komunikasi kita, berusaha menempatkan diri kita pada posisinya.
3.       Kita dituntut untuk selalu tertarik kepada orang lain sebagai individu yang unik bukan sebagai anggota dari suatu kategori sosial, suku, dan agama tertentu.
4.       Kita menguasai setidaknya bahasa verbal (lisan) dan bahasa nonverbal (gerak tubuh,dll) dan system penilaian yang mereka anut.

Sekian, Semoga bermanfaat.. :)

Minggu, 01 Mei 2011

....."MENYELAM".....


Yupp.. malam ini tanggal 1 Mei 2011 pukul 1.30 WIB… Saya merasa terinspirasi sekali dengan tulisan-tulisan teman-teman saya baik yang dikenal maupun yang ga dikenal juga.. Mereka secara detail ngejelasin tentang kegiatan mereka sehari-hari, apa yang habis mereka kerjain, dan apa yang ada dipikiran mereka. Yap, semuanya ditampung di wadah yang bernama BLOG.

Saya mulai bikin blog itu tahun 2009, entah lupa karena apa tiba-tiba pengen aja bikin blog, kalo ga salah karena terinspirasi dari tulisan-tulisan orang dan terperangkap dalam pikiran serta dunia mereka, makanya tertarik bikin dunia sendiri juga. Kayaknya asik gitu ya, kita nuangin apa yang ada dipikiran kita, apa yg sedang terjadi sama kita, apa pandangan kita tentang sesuatu, dan apa fenomena yang sedang berkembang. Ketika jari-jari kita mulai mengetik satu demi satu setiap kata-kata yang ada dalam pikiran, seolah-olah kita sedang terbuai dalam pikiran kita sendiri, dan tangan jadinya tak mau berhenti mengetik (*haihh lebay yak? Hahaha).

Belakangan ini Saya sering sekali blog walking kemana-mana, ada mereka yang menulis tentang pemikiran mereka bagaimana tentang menghargai hidup dan berusaha untuk hidup lebih baik, ada mereka yang menceritakan tentang DIRI mereka, bagaimana cerita kesehariannya, pengalaman-pengalaman yang mereka hadapi.  

Ada satu blog yang Saya sukai, Blog pacarnya teman Saya, Dia sengaja membuat beberapa blog tentang dirinya, ada yang dikhususkan untuk DIRI nya, ada blog yg khusus dibuat untuk mata kuliah selama dia di perguruan tinggi. Saya sangat terkagum-kagum melihatnya. Saat Saya baca, seolah-olah saya sedang berselancar di kehidupannya. Dari tulisan-tulisannya yang menggunakan bahasa inggris dan juga dengan kalimat yang santai, Saya mendapati kesan “INI LOH GW”. Yap, di blog itu Dia menggambarkan dirinya yang sebenarnya. Dari tulisannya dan isi-isi di blognya, Saya bisa membaca kepribadiannya, Dia adalah cewek yang cerdas, supel, berkemauan keras dan tau apa yang dia mau.

Yap, di blog nya, Dia berhasil membentuk kepribadiannya melalui tulisannya. Itu hebat!

Walaupun bila dilihat mungkin fisiknya tak seindah tulisannya, tapi semuanya sirna, justru Saya melihat pancaran dirinya yang sebenarnya, bahwa Dia tau apa yang Dia inginkan dalam hidupnya. Dia kharismatik!

Dan, setelah melihat blog nya, Saya pun langsung termotivasi untuk menulis, Saya termotivasi untuk membentuk kepribadian Saya melalui tulisan ini, Saya ingin berbagi banyak informasi dan pengalaman melalui blog ini, Saya ingin orang membaca diri Saya melalui tulisan Saya.

Yaaaaaaa,,, Saya “kehausan” di blog. I want more!!  I want more!!  I want more!! Yeaaahh…

Ketika kita larut didalam tulisan, terutama untuk tulisan-tulisan yang bersinggungan dengan keadaan kita sekarang, itu akan menghasilkan energy positif bagi kita sendiri, semangat kita dipanggil kembali, keingingan kita digali kembali. Paling tidak, itu sudah merupakan langkah awal yang bagus untuk diri kita sendiri.

Membaca blog orang sama hal nya belajar tentang mereka, dan seperti blog pacarnya teman Saya tadi, Saya belajar tentang diri Dia, Saya merasakan Dia tau apa yang Dia mau dalam hidupnya melalui tulisannya.

Lalu kemudian tulisan itu membangkitkan Saya pada impian Saya…
“Hey Yani, apa yang kamu mau dalam hidupmu? Apa yang kamu sukai dan tidak sukai dalam hidupmu? Apakah sesuatu yang dapat membuatmu semangat? Apa yang ingin kamu capai? Apa yang kamu cari selama ini??” Seolah-olah Saya diajak bicara dan berpikir loh…

Wow, sungguh hebat sekali bukan, dari tulisan-tulisan itu, bisa membangkitkan semangat kita. Bisa memacu kerja otak dan adrenalin kita. Bisa memacu hidup kita dan bisa menjadi kekuatan kita dalam menghadapi hidup ini.

Agak lebay ya kata-kata Saya? Tapi guys, beneran deh,, coba dalami itu dan rasakan!! Hehehe…

Yang agak Saya heran, kenapa kalo nulis SKRIPSI, ga berasa apa-apa ya? Malah rasanya pengen dilama-lamain dan maunya ga usah dikerjain aja,hehehe.. Passion nya malah berkurang..
Padahal kan sama-sama tulisan.. lalu apa yang membedakannya ya?? Hehehe..

Seandainya menulis SKRIPSI adalah HOBI.. 
mungkin bisa cepet selesai..
mungkin para mahasiswa-mahasiswa makin semangat dan termotivasi untuk segera mengerjakan dan menyelesaikan SKRIPSI nya..
Karena HOBI bisa mengubah segalanya..
*uyeeeaaaahhh* :P

Yuk mari kita selami…. !! Yeaaahh.. :D