Jumat, 06 April 2012

Inti Perjalanan : KEBERSAMAAN (Bukan Tujuan tapi Perjalanan untuk mencapai tujuannya)

Dari sekian perjalanan yang Saya telusuri selama di Pulau Jawa, mulai dari jalan kaki mengelilingi kota Bandung, Offroad bareng temen-temen dari DABA dan Landrover, ikut Cornering motor ke Puncak bareng anak-anak COIN (Cornering Indonesia) sampe hampir mau ditusuk gara2 dikira The Jak karena Plat motor “B” , Naik Gunung Tangkuban Perahu pake sepatu Kets, Jeans, dan Jaket tipis, kemping Ceria di tengah hutan bareng anak-anak Mapala yang ga Saya kenal, Main ke Gunung Batu cuma buat ngopi-ngopi aja sambil liat pemandangan Kota Bandung dari ketinggian, menyisiri beberapa pantai, sungai, laut, rawa.

Dan pengalaman lainnya yang tak akan terlupakan saat mendaki Gunung Gede, pake payung di Puncak Gunung karena hujan angin yang kenceeeeennggg bangeett, trus nyaris hipotermia karena kehujanan dan kedinginan, ganti baju ditenda dengan modal nekat yang bikin malu ga ketulungan kalo diinget-inget lagi. Sama pengalaman waktu Saya ke Kediri untuk belajar Bahasa Inggris di Kabupaten Pare. Satu bulan yang juga tak akan pernah terlupakan, tiap minggu jalan-jalan ke tempat-tempat yang berbeda, mulai dari wisata gunung, ke Gunung Kelud dan Gunung Bromo, wisata pantai Boom di Tuban, wahana permainan WBL, Jatim Park 2, BNS, wisata sejarah dan budaya, ke Goa kabar tempat para Wali Songo, ke Klenteng di pinggir pantai, ke Candi, main sepakbola sama anak-anak dari perkampungan sambil hujan-hujanan, dan tentunya wisata kulinerr, banyaaaaakkk bangettttt dari Kehujanan, ketinggalan bus, gabisa pulang, terdampar di pinggir jalan, tidur di emperan.

Terakhir selesai dari Pare, Saya melanjutkan perjalanan bolak balik. Pare- Jogja-Bandung-Jogja-Bandung lagi. Dimana dari perjalanan itu, Saya akhirnya ngerasain tidur di warnet, tidur dan mandi di stasiun, tidur dan mandi di pom bensin, muiter-muter ga jelas karena ga ada tempat tinggal, tidur di hotel yang di depan kamar kita ada kandang ayam sama kandang burung, bau e*k yang luar biasa, hahahaa. Sampe kita juga jalan-jalan ke Gunung Merapi, ke rumahnya Mbah Marijan, Ke Candi Prambanan, Borobudur, tamansari, museum sejarah, Pantai, tengah malem ngemper dijalan lagi karena duit udah habis gda tempat tinggal, pindah dari satu tempat ke tempat lain sampe pada akhirnya semua tempat tutup dan balik lagi tidur di warnet, ke Kawah, hamper di grebek Bapak kosan karena sebenernya Saya udah ga ngekos lagi disana tapi Saya malah bawa beberapa temen nginep disana.

Banyaaakk baaaannngeeeeeettttt pengalaman-pengalaman selain dari yang Saya tulis itu pengen Saya ceritain satu-satu. Bener-bener pengalaman yang tak terlupakan dan ga boleh dilupakan. Karena Saya tahu, mungkin hanya pada waktu itu saja Saya bisa berpetualang seperti itu. Sekarang sudah ga akan bisa lagi nampaknya. Dan semua yang terjadi itu, banyak banget manfaatnya. Ga hanya sekedar jalan-jalan biasa. Banyak yang bisa Saya dapetin dari semua perjalanan itu. Mulai dari pengetahuan yang bertambah, relasi pertemanan yang makin meluas, kepercayaan diri yang meningkat serta rasa ingin terus berpetualang yang sampe sekarang terus menggelora di dada #Aseeekk Hahhahaa.

Kita baru menyadari bahwa kita itu sangat kecil sekali di dunia ini dan tidak ada apa-apanya. Dan sungguh kuasa Tuhan itu sangat luar biasa sekali yang bisa menciptakan seluruh isi bumi dan langitnya tanpa ada kurang satupun. Subhanallah..

Dan tentunya rasa nasionalisme terhadap bangsa ini semakin meningkat juga, mengingat banyak sekali Sumber Daya Alam yang sangat indah. Namun, dieksploitasi dan tak terawatt. Tak bisa dibayangkan apa jadinya kalau semua keindahan alam ini hilang dan kotor. Tidak ada lagi laut yang biru, pohon yang rindang dan hijau, kicauan burung yang indah dan merdu. Sungguh tak terbayangkan.

Selain itu, yang penting dari semua perjalanan tadi adalah KEBERSAMAAN..

Bayangkan walau kita berada di atas puncak Gunung yang luar biasa indah, bisa melihat awan dari ketinggian, merasakan angin yang dingin menusuk kalbu, tetapi perjalanan itu hanya dilakukan oleh diri kita seorang. Ga ada orang-orang yang menemani kita. Mungkin yang muncul malah rasa takut, dan rasa ingin cepat-cepat turun karena takut mati sendirian diatas gunung, tak ada yang menolong apalagi mengenali.

Bayangkan kalau kita ke Pantai, memang sangat indah, bisa melihat air laut yang sangat biru, melihat ikan-ikan berseliweran, bintang laut, batu karang, suara ombak yang menghantam batu. Semuanya sangat indah. Tapi bayangkan kalau hanya kita sendirian, tak ada gunanya, yang ada malah rasa takut karena mungkin saja di sekitar sana banyak binatang buas yang akan menggigit, mungkin air laut tiba-tiba pasang dan menyerang.

Bayangkan kalau kita ke tempat-tempat wisata alam sendirian. Memang indah sekali. Banyak yang bisa kita pelajari, banyak pelajaran positif yang bisa kita ambil. Tapi bayangkan kalau cuma kita sendirian. Yang ada hanya rasa bosan dan ingin cepat-cepat pulang saja karena tidak ada tempat untuk berdiskusi.

Bayangkan kalau kita kebut-kebutan di tengah jalan yang masih ramai oleh pengendara lainnya. Terutama pada saat Cornering. Hidup dan mati tipis sekali. Tak ada pelindung yang melindungi badan ini kalau-kalau terjatuh atau terlindas oleh mobil lain. Kalau sendirian, apa mau kita mengorbankan nyawa seperti itu…..

Yup, lagi-lagi kita adalah Makhluk Sosial. Saling membutuhkan satu sama lainnya.

Perjalanan ke Gunung menjadi berarti karena terasa kebersamaan antara teman-teman yang mendaki, saling tolong menolong, saling menyemangati saat teman ada yang kelelahan dan saling support untuk terus melanjutkan perjalanan hingga menuju Puncak. Perjalanan ke pantai menjadi berarti karena ada teman untuk saling berbagi keindahan dan kebahagiaan. Kita bisa lari-larian bareng di pantai, main air bareng, atau bahkan main pasir. Yang sebenernya hal itu bisa kita lakukan sendiri, tetapi tidak akan ada tawa yang lepas dan kebahagiaan yang terpancar kalau hanya kita lakukan sendirian saja. Cornering di pinggir jalan raya dengan kecepatan 100km saat tikungan, apa mau kita mengorbankan nyawa dengan melakukan kebodohan seperti itu. Semuanya itu akan menjadi suatu yang nmenggairahkan dan memacu adrenalin ketika hal itu dilakukan bersama dan ada teman yang bisa meyakinkan kita untuk mempercayainya, dan bilang “kita bisa melakukan tikungan ini”. Begitu juga dengan tidur di emperan, tidur di warnet, tidur di stasiun, pom bensin, tidur di hotel dengan bau menyengat kotoran burung dan ayam. Semuanya itu akan menjadi sesuatu yang sangat suram, tidak mengasyikkan, membosankan, sesuatu hal yang memalukan, sesuatu yang menjijikkan, bahkan sesuatu yang dinilai kotor. Tapi apa? Semua itu jadi sebuah pengalaman yang tak terlupakan, banyak kebersamaan, banyak senang dan sedih yang dialami bersama, serta banyak sekali tawa dan canda karena kebodohan yang dilakukan bersama. Semua hal itu menjadi sesuatu yang amat sangat bernilai karena KEBERSAMAAN.

Dengan KEBERSAMAAN seolah-olah kita mendapatkan suatu semangat baru yang terkadang lepas kendali saking senangnya. Kita merasakan sesuatu terjadi diluar dari dugaan kita. Yang tadinya bibir mungil hanya bisa tersenyum simpul, tapi dengan kebersamaan, senyum simpul itu bisa jadi tawa yang lebar dan terbahak-bahak.


Dengan KEBERSAMAAN, yang tadinya mengalami rasa takut yang luar biasa, tapi bisa melewati rasa takut itu, karena teman, sahabat meyakinkan kita bahwa kita bisa melewati rasa takut itu bersama, dan kita harus kuat dan berani untuk menghadapi itu.

Dengan KEBERSAMAAN, yang tadinya menangis adalah suatu hal yang dianggap cengeng, tapi bisa jadi suatu yang amat berharga karena dari situlah, kita menyadari betapa berartinya kebersamaan itu sampai kita tidak bisa membendung air mata yang keluar. Sampai kita tersedu-sedu, menghabiskan puluhan tisu, dan membuat mata bengkak. Tapi sebenernya arti dari tangisan itu adalah “Kita tidak ingin kehilangan kebersamaan dan ingin terus melakukan hal-hal konyol itu lagi, lagi dan lagi..”

Saya mengalami arti KEBERSAMAAN itu dan Saya sangaaaaaatttttt rindu sekali saat-saat bersama itu. Pengalaman hidup yang paling berarti saat ini adalah saat Saya bersama Kalian. Saat Saya bisa tertawa terbahak-bahak, menangis karena berpisah, malu karena kebodohan yang Saya lakukan, dan tidak bisa tidur karena terus memikirkan saat Kita bersama-sama dalam suatu perjalanan itu dengan berbagai macam cerita aneh, kekonyolan, kepedean, kemarahan hingga rasa kehilangan. Dari semua perjalanan itu, Tidak akan berarti bila tak ada teman-teman dan sahabat-sahabat yang menemani..

Dan untuk orang-orang yang pernah menjadi bagian dari KEBERSAMAAN itu, Saya mengucapkan terimakasih…

Saya Rindu Kalian..

Saya Sayang Kalian..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar