Rabu, 09 Januari 2013

Untukmu...


        Dari balik jendela kamarku, dapat kulihat langit yang berwarna abu-abu menandakan bahwa cuaca sedang tidak begitu bersahabat sore hari ini. Mungkin saja sebentar lagi akan segera turun hujan yang akan  mengguyur Kota Palembang ini. Hembusan angin yang sembunyi-sembunyi melewati jemdela kamarku juga dapat kurasakan menambah nikmatnya suasana sore hari ini. Suara burung yang berkicau, ayam berkokok dari dekat halaman disamping rumahku juga membuat hati ini tenang dan damai. 
        Aku, duduk menuliskan kata demi kata sehingga menjadi sebuah kalimat yang menggambarkan isi hatiku saat ini. Tak banyak yang kurasakan tapi hari ini rasanya Aku begitu rindu dengan masa-masa dimana Aku bebas berkelana menikmati keindahan alam tanah Jawa. Aku rindu dengan kehangatan antara aku dan Kakakku, Aku rindu dengan angin malam, dan Aku rindu dengan kehidupan dimana Aku bisa memilih jalan mana yang ingin Ku jalani. Perasaanku hari ini hampir sama dengan yang Aku alami pada saat awal-awal Aku mulai kembali lagi untuk melanjutkan kehidupan di Palembang. Ya, rasa yang sama. Terasa kesepian menyelimuti hati ini. Tapi juga tak tahu harus berbuat apa untuk menghilangkan rasa kesepian ini. Sempat terpikir untuk pergi keluar rumah sendirian dengan mengenakan sepeda motor milik Ayahku, sekedar berkeliling tanpa arah untuk mengisi kembali gambaran-gambaran baru dalam otakku agar bisa melupakan rasa rindu itu. Tapi apa daya kendaraannya sedang dipakai Ayahku untuk pergi ke suatu tempat. 
         Aku mencoba mengalihkannya dengan membaca artikel-artikel di internet, tetapi sama. Yang muncul hanyalah rasa bosan dan ketidaktertarikan. Lalu Aku berbaring di tempat tidur untuk mengistirahatkan pikiranku sembari memejamkan mata sambil mengingat-ingat kembali memori itu. Yang muncul ternyata rasa rindu yang amat sangat tak terbendung. kemudian Aku membuka mata dan tanganku meraih sebuah Handphone untuk mengajak ngobrol seorang teman. Ya Aku rasa aku perlu bercerita dengan seorang teman, agar rasa sepi itu berkurang. Dimulai dengan obrolan ringan, menanyakan apa yang sedang dilakukannya, obrolan yang singkat namun tak begitu bersemangat, ya sepertinya Dia mengetahui ada yang tidak biasa. Lalu Dia menelponku. 
       Tadinya sulit sekali untuk berbicara dengan lantang tetapi lama kelamaan kami mengobrol seperti biasanya, bercerita tentang kegiatan Kami sehari-hari. Malam sebelumnya Kami sempat berselisih paham tentang sesuatu yang membuat Kami harus berbicara empat mata agar semuanya menjadi lurus kembali. Pada dasarnya Kami memiliki sifat yang sama, yaitu keras kepala. Tinggal menunggu saja siapa yang tetap bertahan dengan pendiriannya, atau siapa yang akhirnya mundur dan memilih untuk mengalah. Ya, 8 bulan sudah Kami lalui waktu bersama untuk saling mengenal diri masing-masing. Tentunya cobaan tidak sedikit. Dan karakter diri Kami juga banyak sekali yang berbeda. Adalah perjuangan yang berat dan besar ketika Kamu tahu Kamu berbeda tetapi Kamu harus menerima perbedaan itu dan menjadikannya biasa dalam hidupmu, itu adalah langkah untuk Kamu agar mengetahui sebatas mana dirimu mampu berjuang untuk sesuatu yang Kamu yakini. Dan itu yang sedang Kami berdua jalani. 
          Dia yang sudah cukup mengenal Aku ternyata bisa mendeskripsikan apa yang kurasakan saat ini tanpa harus Aku ceritakan terlebih dahulu. Seketika tumpahlah air mataku saat Dia menjelaskan melalui telepon tentang apa yang kurasakan itu. Ya Kamu benar. itu yang aku rasakan dan itu yang Aku mau. Lega rasanya ketika air mata itu sudah keluar membasahi pipi. Aku menceritakan satu demi satu apa yang kurasakan dan Dia mendengarkan. Solusi mungkin belum ada tetapi paling tidak Dia bisa menghibur hatiku dan membuat perasaan ini menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan Aku menyadari Aku hanya butuh seorang teman untuk berbagi. Karena bagi wanita, satu menit yang Kau luangkan untuk mendengarkan keluh kesahnya sama seperti Kau telah menyelamatkan satu bagian dari dirinya yang paling berharga, yaitu hatinya..
            Akhirnya Aku bisa merasakan lagi lembutnya tiupan angin dari balik jendela kamarku, menikmati lagi keindahan di sekeliling kamarku dan merasakan kekuatanku bangkit kembali untuk terus kuat melawan rasa rindu itu yang sering kali melintas dipikiranku. Terimakasih, untuk Dia, yang selalu ada menemaniku.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar