Guys, kalian udah tau mau ngapain setelah kuliah? Mau ngelanjutin kuliah lagi kah, mau kerja, berwirausaha atau mungkin langsung menikah? Lantas, apa yang ada dipikiran kalian sekarang?
Persaingan semakin ketat, semakin banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia ini yang menelurkan ribuan calon generasi penerus bangsa. Lalu apakah kita termasuk ke dalam salah satu generasi penerus bangsa itu? Apa kontribusi yang bisa kita berikan? Atau sudah terpikirkan kah oleh kita semua kontribusi apa yang bisa kita berikan?
Secara pribadi, Saya belum bisa mengkonkritkan bentuk kontribusi Saya sekarang ini. Masih sebatas kontribusi kecil yang bisa Saya berikan. Lalu apakah bisa kita mencapai pada satu titik dimana kontribusi kita di dunia ini bisa dirasakan oleh orang banyak? Jawabannya Bisa. Bisa ketika kita berusaha dengan keras dan sungguh-sungguh.
Kontribusi itu sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang wajib, karena kontribusi itu datang dari hati kita sendiri, datang dari kemauan kita untuk memberikan yang terbaik kepada orang lain, datang dari semangat kita. Paling tidak, ketika kita sudah mempunyai “sesuatu”, maka batin kita pun akan terpanggil untuk segera ber-kontribusi. Misalkan, dalam hal lingkungan adalah Pak Sariban yang sudah memberikan kontribusinya bagi masyarakat dan Pemerintah. Sehari-harinya Pak Sariban adalah orang biasa yang mencintai lingkungan bersih. Salah satu bentuk kontribusinya bagi Kota Bandung adalah menjadi relawan untuk membersihkan sampah-sampah di pinggiran jalan dan mencabut paku-paku yang ada di pohon-pohon. Tanpa diminta, kontribusi Pak Sariban datang dari hatinya sendiri atas kecintaannya kepada lingkungan. Adalah seorang Guru yang sudah berkontribusi untuk mencerdaskan anak bangsa, karena mereka sadar dari mereka lah, anak negeri ini bisa menjadi sepintar seperti sekarang ini. Tidak lain karena kesadaran mereka di bidang dunia pendidikan.
Begitupun dengan kita, tidak ada yang memaksa kita untuk berkontribusi di bidang apapun. Semuanya datang dari diri kita sendiri. Ketika kita bekerja di sebuah Perusahaan. Awalnya karena niat untuk mencari penghasilan, tetapi sadarkah itu adalah salah satu bentuk kontribusi kita. Kita bekerja di sebuah sekolah, berarti secara tidak langsung kita telah berkontribusi untuk mencerdaskan anak bangsa. Kita bekerja di perusahaan televisi, itu adalah salah satu bentuk kontribusi kita memberikan informasi kepada pemirsa melalui tayangan-tayangan yang disiarkan.
Semua hal-hal besar maupun hal-hal kecil yang kita lakukan, adalah merupakan bentuk kontribusi kita terhadap sesuatu di dunia ini.
Lalu apa bentuk kontribusi kita terhadap Sang Pencipta?
Jawabannya adalah mengerjakan segala sesuatu di dunia dengan niat yang baik, jalan yang baik, tujuan yang baik serta hasil yang baik. Ya, itu adalah kontribusi kita. Ketika menjadi seorang Guru, niat kita haruslah baik, apapun yang Saya ajarkan kepada murid-murid Saya tidak lain karena Saya ingin berbagi ilmu dan pengalaman, Saya mengajari mereka bagaimana cara solat yang benar, bagaimana membaca, menulis dan menggambar, tidak lain agar mereka kelak menjadi orang-orang yang berguna bagi bangsa dan Negara ini. Berawal dari niat, jalan, tujuan dan hasil yang baik itu, InsyaAllah dengan segala kuasa yang dimiliki-Nya, Guru tadi akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan hati, pahala, rezeki, dan kebaikan pula oleh Sang Pencipta.
Segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini tidak lain adalah demi mendapatkan ridho dan berkah dari Allah SWT.
Tetapi, mengapa banyak sekali manusia jaman sekarang yang melakukan berbagai hal hanya untuk kesenangan di dunia saja, tidak terpikirkan kah kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat? Mungkin teringat, tetapi kemudian lupa seiring dengan kenikmatan di dunia yang bisa dirasakan langsung nikmatnya. Tapi sampai kapan kenikmatan di dunia ini bisa bertahan? Ya mungkin jawabannya adalah sampai sebelum kiamat. Sampai sebelum didatangkan sakit oleh Allah, sampai sebelum dimiskinkan oleh Allah, sampai sebelum dimatikan oleh Allah. MasyaAllah..
Banyak sekali urusan di dunia ini yang bisa menjebak kita kedalam kemurkaan Allah dan banyak juga yang bisa menuntuk kita kepada keridhoan Allah. Tergantung kita saja yang ingin ikut golongan yang mana. Orang-orang yang memilih terjebak ke dalam kenikmatan dunia, kufur nikmat, dll bisa kita tebak, nantinya mereka akan kemana saat di akhirat. Orang-orang yang menjalankan kehidupannya sesuai dengan perintah Allah, sudah terbaca akan kemana saat di akhirat. Tapi orang-orang yang masih setengah-setengah? Bagaimana nasibnya? Sesungguhnya hanya Allah yang tahu bagaimana nasib mereka kelak. Kita sebagai manusia hanya bisa memprediksi.
Ada satu kisah lawas, dimana orang tersebut selama di dunia sering melakukan kejahatan selama di dunia. Suatu ketika, saat hendak berjalan, dia melihat seekor anjing dipinggir jalan yang nyaris ditabrak oleh kendaraan. Seperti yang kita tahu, dalam Islam anjing adalah salah satu binatang yang diharamkan. Karena ketulusan hati orang tadi menolong Anjing itu, saat di akhirat, orang tersebut diselamatkan dari siksaan neraka karena kebaikan hatinya yang tulus ikhlas menolong Anjing tadi. Subhanallah, kita tidak tahu apa rencana Allah.
Lalu apa rencana rekan-rekan sekalian untuk ke akhirat nanti? Sudah sejauh mana?
Saat sehat, kita seringkali lupa untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Kita menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, untuk membicarakan orang lain, untuk datang ke tempat-tempat maksiat, untuk melihat hal-hal maksiat, kita mati-matian mengejar nikmat dunia ini. Tetapi saat kita sakit, tak ada satu pun yang bisa kita lakukan selain hanya menyesali kelakuan kita selagi sehat dan memohon meminta kesembuhan pada Allah.
Saat luang, kita seringkali lupa untuk melakukan kebaikan-kebaikan, kita lebih memilih bersenang-senang. Tetapi saat luang itu lenyap, saat mendekati kematian kita menyesali mengapa saat luang itu tidak kita gunakan untuk melakukan hal-hal yang baik, untuk beribadah kepada Allah.
Lalu bagaimana caranya agar kita di dunia ini dapat melakukan kebaikan di jalan Allah setiap saat?
Saya pun bingung dibuatnya. Sebenarnya kita sudah diberikan pondasi dari kecil yaitu dengan belajar mengaji dan belajar budi pekerti dan ilmu agama lainnya. Tapi apakah sanggup kita tetap konsisten di jalan itu hingga akhir hayat kita? Jawabannya adalah kita harus sanggup. Manusia harus berusaha.
Lalu usaha apa yang harus kita lakukan? Subhanaallah……
Banyak sekali yang kita lalaikan bukan selama ini??
Tetapi bagaimana dengan nasib orang yang masih takut kalah di dunia? Takut kalau-kalau tidak mendapat pekerjaan, takut kalau dianggap tidak gaul, takut kalau dijauhi karena pilihannya? Sebenarnya tidak ada yang perlu kita takutkan bukan?? Tetapi bagaimana agar rasa takut itu hilang??
Melalui beberapa perbincangan dengan teman-teman perempuan, beberapa diantaranya masih takut menggunakan jilbab karena persaingan di dunia pekerjaan yang sangat ketat. Banyak kejadian, seorang muslimah ditolak bekerja karena dirinya menggunakan jilbab. Tantangan hidup yang harus dihadapi, karena zaman sekarang ini, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, akan tertinggal. Itulah Seleksi Alam. Selain itu, kebutuhan hidup yang amat tinggi juga merupakan factor penyebab persaingan di dunia pekerjaan amat tinggi. Apalagi di Indonesia, banyak perusahaan-perusahaan yang berkiblat ke dunia barat, mereka melakukan seleksi penerimaan pegawai kepada mereka yang berparas cantik, menawan, kepada mereka yang fisiknya rupawan, kepada mereka yang kaya. Lalu bagaimana nasib mereka yang berparas biasa saja, yang fisinya biasa saja dan mereka yang miskin? Seringkali mereka itu masuk ke bagian-bagian yang terbelakang. Kalaupun diterima, mereka jarang menempati posisi yang bagus.
Lalu harus bagaimana?
Ketakutan di dunia yang amat tinggi dapat mengalahkan ketakutan kita pada siksaan Allah di akhirat. MasyaAllah…
Lalu salahkah bila kita memiliki ketakutan yang amat tinggi itu? Bagaimana mengubah mindset kita?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan itu...*jawabannya mungkin: Beriman dan Bertaqwa lah kepada Allah SWT... bener ga yah? :P
Ya Allah, bimbinglah kami hamba-hamba-Mu yang masih berada dalam zona ketakutan itu..
Berikanlah kami ketenangan hati dalam menjalani setiap kegiatan di dunia ini..
Tuntunlah kami agar selalu berada dalam jalan kebenaran..
Siramlah kami dengan kasih sayang-Mu, keridhoan-Mu, dan hidayah-Mu..
Amin ya robbal alamin :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar