Rabu, 08 Juni 2011

Si Berry yang malang….


Bandung, 5 Juni 2011

Hari ini konyol. Kenapa? Ya, karena hari ini konyol. Masih penasaran juga kenapa? Ya, karena konyol aja,hehe..

Jadi ceritanya, uang Saya itu udah masuk ke golongan kritis. Bukan karena akhir bulan atau apa. Tapi karena hilang entah kemana. Semenjak Saya pulang lagi ke Bandung kemarin, sebenarnya orangtua Saya sudah membekali Saya uang untuk beberapa waktu di Bandung, jumlahnya baru seperempat dari uang jajan per bulan. Selain itu, uang tambahan yang diberi Kakak Saya juga sudah lebih dari cukup untuk melanjutkan hidup Saya sampai beberapa hari setelah Saya menulis cerita ini. Tapi entah kemana kayaknya ga kerasa aja uangnya udah dipake buat beli atau makan apa. Ga ada barang yang dibeli, tapi ya itu uangnya habis untuk beli pulsa, makan sehari-hari, serta habis untuk membeli stok cemilan dikamar :P. Nonton atau jalan-jalan ke Mall pun belum pernah semenjak pulang lagi ke Bandung. 
 Yap, mungkin itulah bukti kalau Saya itu belum terlalu bisa mengontrol pengeluaran Saya. Tapi alhamdulilahnya, walaupun sudah di penghujung bulan, selalu masih ada persediaan.

Jadi, tadinya Saya kira uang Saya itu masih ada, soalnya Saya itu orangnya suka narok uang dimana aja, ya di tas lah, di saku celana, kantong baju atau jaket. Saya inget uang itu masih ada. Ternyata uang yang tadi Saya kira masih ada, udah ga ada lagi dimana-mana di setiap sudut ruangan dikamar kosan. Alhasil, sembari mencari uang itu, Saya juga merapikan kamar. Tetep ga ketemu. Dari pencarian yang lumayan memakan tenaga dan pikiran itu, Saya cuma nemuin uang Rp 3000,- . Bayangin dong, bisa dapet apa uang Rp3000 untuk makan siang? Hahahaha. 

Selain itu, pulsa juga ludes. Karena tingkat kebutuhan pulsa yang amat tinggi. Saya turun ke kamar Ririn, untuk minta uang Rp 3000 Saya yang belum dikembalikan sama Dia. Tadinya sih mau diikhlasin, tapi karena butuh, Rp 3000 pun sangat berharga sekali. Ujug-ujug, langsung keluar dan beli pulsa yang Rp 5000, hehehe. Teh Leni yang di kamar bawah juga baik banget, nawarin makan dan minjemin duit. Tapi apa daya, Gengsi Saya lebih gede. Ga mau banget pokoknya minjem2 uang orang kayak gitu selagi masih bisa bernapas, Ceilee..

Sebenernya masih ada uang simpenan di tabungan. Tapi Sayaaaaaannnngg kalo tabungannya dibongkar.. Bukan masalah ga mau beli tabungannya lagi, tapi ini masalah Ke-Konsistenan untuk menabung. Bisa-bisa pemakaian uangnya ga terkontrol juga karena melihat lubang tabungan yang terbuka lebar untuk diambilin uangnya. Itu godaan besar, Bung!

Tik Tok Tik Tok Tik Tok….. !

Laper juga ya, selain itu, sore hari nya juga udah janji dengan seorang sahabat untuk nginep dirumahnya karena orangtuanya sedang pergi. Sebenernya kalo dalam keadaan kepepet gini, bisa aja kan ya batalin aja nginepnya, jadi ga keluar uang buat ongkos, jajan, dan lain-lain. Tapi ini juga masalah Janji, Bung. Sehari sebelumnya Saya bilang iya, tapi tiba-tiba karena uang yang tiba-tiba lenyap itu juga, masa Saya besoknya bilang nggak bisa dengan alasan yang mungkin Dia ga percaya.  Who knows?

Tapi karena ini masalah Janji, Bung! Harus Saya tepatin. Keputusan yang sangat berat sekali.. 

Lamaaaaa sekaaalliiiii Saya berpikir keputusan seperti apa baiknya untuk mengatasi semua masalah ini??

Triiinnggg Triiinnngg Triinnggg… (Seperti tongkat Ibu Peri yang dilambaikan lalu muncullah secercah cahaya dan kilauan-kilauan emas)

Tiba-tiba… Nampak dari sudut kamar sebelah kiri, ada cahaya yang bersinar disana, seolah-olah sudut kamar sebelah kiri itu sedang didatangi oleh seorang Malaikat bercahaya putih nan berkemilau. Saya penasaran, lalu kemudian Perlahan Saya pun bergerak dari kasur Saya menuju cahaya putih itu.

Woooowwww sebuah Strawberry Raksasaaaaaaa…….!!!

Seketika setan-setan langsung merasuki tubuh Saya dan segera Saya mengambil Strawberry Raksasa itu dan meletakkannya di karpet di depan kamar. Saya diamkan terlebih dahulu sambil menunggu Malaikat baik datang untuk memerangi setan-setan tersebut. Tapi apa daya, nampaknya Malaikat sudah takut duluan dengan setannya sebelum berperang. 

Ku lari ke lantai bawah, kuambil sebuah Palu yang sedikit terlihat usang. (serasa di AADC aja). Gagangnya berwarna coklat keemasan dan sudah agak sedikit berkarat di bagian besi nya. Lalu Saya pun tergopoh-gopoh berjalan cepat menuju ke tempat Strawberry Raksasa tadi diletakkan.

Dengan penuh keyakinan, Saya memukul bagian dari Strawberry Raksasa itu dengan pelan. Tetapi Sang Setan terus memaksa Saya untuk memukulnya lebih keras lagi.

“Ayo pukul lebih keras!!” Sorak Setan.
“Tak Tak Tak!” Begitulah kira-kira suara Strawberry Raksasa itu saat dipukul.

Beginilah keadaan Strawberry Raksasa setelah dipukul…
 

 Miris, Sedih, Kasihan.. Semuanya bercampur aduk, Tapi ada perasaan lega setelah itu.. Karena bisa melanjutkan hidup dengan normal lagi,hehehe..

Saya rapikan lagi serpihan-serpihan yang ada di lantai dan sekitarnya, Saya ambil beberapa lembar saja dari dalam Strawberry Raksasa itu.

Taapiiiiiii..
ada penyesalan setelah itu.. T.T
Melihat cuaca yang sepertinya akan segera turun hujan, Saya mengangkat beberapa pakaian yang dijemur. Saat melipat salah satu celana, Saya rogoh kantongnya, Daaaannnnn… Uang yang tadi Saya cari-cari, ternyataaa ada dikantong ituuuu… Oh Tuhaaann, kenapa tak terpikirkan oleh  Saya untuk memeriksa kantong celana itu sebelum Saya memecahkan Strawberry Raksasa itu. 

Kasihan si Strawberry Raksasa, sekarang dia cacat. Sulit untuk mengembalikan bagian tubuhnya yang sudah hancur itu. 

Sabar ya Berryyy… T.T
Nanti kita beli yang baru lagi ya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar