Di malam hari yang dingin dan gerimis ini,, sunyi sekali, TV sengaja dimatiin, karena sinetron semua isinya. HP juga di silent aja, karena pengen aja di silent. Begitu juga uang belanja, hari ini ga ngeluarin 100 rupiah pun, karena apa coba? Karena Aku malas keluar kosan, dan ada stok mie+telor dikosan.. Sambil mengisi waktu, Aku memilih online (lagi) aja, tadinya kepikiran buat nyari bahan-bahan tentang kisah sukses wanita/perempuan berkerudung, Aku cari thread nya di Kaskus untuk baca-baca, eh nemu cerita tentang kisah seorang cucu yang kesal karena Neneknya dihina karena berkerudung. Sungguh miris sekali, membaca ceritanya sampai habis mengingatkan Aku dengan sebuah pengalaman yang hampir sama, ketika Aku melihat Mamaku dihina karena kerudungnya juga. Alhasil, tergeraklah hati ini untuk menulis sebuah cerita pahit ini…
Waktu itu, Aku sedang menemani Mama untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di salah satu pasar tradisional di Palembang. Sebelum berangkat ke pasar, Mama tiba-tiba menawari untuk membelikan cincin, karena selama ini Aku tidak pernah meminta untuk dibelikan barang-barang berupa emas kuning ataupun emas putih. Sedangkan Kakakku seringkali meminta dan dibelikan oleh Mama sebuah cincin. Awalnya Aku menolak karena tidak biasa memakai cincin, tetapi Mama tetap meyakinkan untuk membelikan, beliau bilang itu untuk asset atau tabungan kamu juga, Nak.
Bruuummm….brummmm..brummmm…tin tin tin….. mobil Aku kendarai menuju ke pasar bersama Mama. Dan segera diparkirkan dengan apik ketika sampai di pasar tersebut. Tujuan pertama sebelum belanja adalah ke toko emas dulu, kebetulan parkir mobil Kami dekat sekali dengan toko emasnya.
“Silahkan Bu… (satu per satu cincin emas dan peraknya dikeluarin sama karyawan Toko Emas nya)” ketika kami baru saja masuk ke tokonya.
Aku dan Mama melihat-lihat satu per satu cincin emas itu dan juga selalu mencoba memakaikan cincinnya di jari manis tangan kiriku. Kalau cincinnya tidak pas, segera Aku kembalikan lagi ke Karyawannya dan bilang kalo Aku mau lihat model yang lainnya lagi.
Beberapa cincin berulang kali diambil dan dimasukkan ke dalam lemari emas oleh karyawannya untuk diperlihatkan kepada Kami.
Kebetulan di toko emas itu ada, Tante X (lupa namanya). Tante ini adalah tetangga waktu rumah kami masih di komplek perumahan, dan anaknya adalah teman dekatku waktu SMP. Tante ini juga mau melihat-lihat emas. Perbincangan terjadi diantara kedua Ibu Rumah Tangga ini sambil melihat-lihat cincin juga. Seingatku, selain kami bertiga, ada satu Ibu lainnya yang juga melihat-lihat emas di toko emas itu.
Setelah beberapa lama, Aku bilang ke Mama kalau tidak ada cincin yang Aku sukai disana dan Aku ajak untuk berbelanja saja. Baru keluar beberapa langkah dari toko tersebut, Mama dipanggil oleh karyawan itu. Dan seraya karyawan itu bilang…
“Ibu tolong kembalikan cincinnya, Tadi Saya melihat cincin yang Saya keluarkan ada 4 (*kl tidak salah*), sekarang tinggal 3. Sini Bu kembalikan!!” bentak si Karyawan.
Mama pun langsung merespon bentakan karyawan itu dengan sabar.
“Maaf dek, Saya ga ngambil cincinnya, kan tadi sudah Saya balikin semuanya”.
“Iya kak, tadi Aku liat kok cincinnya masih ada semua dan udah dibalikin juga sama mama” tambah Aku.
“Gabisa Bu!! tadi Saya liat cincinnya masih ada. Pas Ibu pergi udah nggak ada lagi!!”
Semua orang yang ada di toko itu terdiam dan focus melihat percakapan Mamaku dan si karyawan. Karyawan lainnya juga Cuma bisa menunduk dan diam saja tanpa merasa ingin tahu atau ingin bertanya apa yang sedang diributkan. Begitu juga tante X tadi, pas Dia liat Mama dibentak dan dituduh sama karyawan itu maling cincin, Tante X malah bilang Dia tidak tahu menahu dan segera pergi meninggalkan toko itu. Aku sedih banget ngeliat posisi Mama saat itu.
Mama terus mempertahankan kalau Beliau benar-benar tidak mengambil cincin itu, sedangkan si karyawan tetep ngotot kalau yang ngambil cincin itu adalah Mama. Sampai terjadilah perdebatan yang lumayan sengit.
“Eh dek, Saya ini beneran ga ambil satu cincin pun dari sini, kalo ga percaya periksa aja kita!!”
“Ngapain Bu periksa-periksa!! Udah jelas Ibu yang ngambil!!!”
“Sumpah Demi Allah Saya ga ngambil cincin itu, ga mungkin saya maling Dek, Nih liat gelang saya, saya baru naik haji kemarin, jadi ga mungkin Saya mau maling!!”
“Alah Bu, emang kalo orang naik haji udah pasti ga akan maling?!! Bisa aja Ibu beli gelang itu, kan banyak jualannya!!”
“Sumpah demi Allah, saya ga maling, kalo ga percaya silahkan telanjangi Saya dan anak Saya disini sekarang, silahkan periksa!!!”
“Dimana polisi yang dekat disini, yani?”
“Ada ma, di sebelah sana”
“silahkan panggil saja polisinya kalau memang Adek tidak percaya kalau Saya bukan maling!!”
Suasana di toko itu semakin tegang, Orang-orang disana termasuk si karyawan Cuma diam ketika Mama bilang itu. Termasuk Aku yang ga bisa ngomong sepatah katapun untuk membela Mama di hadapan karyawan itu. Sungguh berdosa lah Aku sebagai anak..
Akhirnya si karyawan mneyerah karena Mama sangat meyakinkan sekali kalau memang tidak mengambil emas itu. Dan menyuruh kami untuk segera pergi dari Toko itu.
Tetapi sebelum pergi, Mama bilang ke karyawan itu:
“Sumpah Demi Allah Saya ga ngambil cincin itu, kalau memang harus diganti, yasudah akan Saya ganti dalam bentuk uang”
Si karyawan, malah mengusir Mama dari toko itu.
Keluar dari toko itu, Mama tidak membahas sedikitpun denganku mengenai tingkah si Karyawan toko emas itu, malah kita melanjutkan belanja ini itu dan semuanya terlihat tidak ada masalah dimata mama.
Sesampainya dirumah, Aku lihat Mama yang kelelahan, mengambil secangkir air es untuk diminum dan duduk sejenak di ruang tengah sebelum masak untuk makan siang. Aku duduk di seberang Mama, memperhatikan muka Mama apakah ada air mata yang mau menetes karena dihina oleh karyawan sialan itu? Ataukah bercerita padaku tentang perlakuan karyawan hina itu kepada Mamaku.
Ternyata Mama selalu terlihat tegar, Muka yang gemetar dan ketakutan tak terlihat sedikitpun di wajah Mama, sempat Aku bertanya-tanya dalam hati. “Menangiskah Mama di dalam hati sebenarnya??”.
Karena melihat Mama yang tegar itulah, malah baru terpikir lagi kejadian di toko emas. Kenapa Aku tidak membela Mama saat itu? Kenapa AKu tidak ikut membentak karyawan sialan itu? Kenapa tidak Aku pecahkan saja lemari emas itu lalu serpihan kacanya kugoreskan tepatkan di bibirnya sehingga Dia kesakitan? Kenapa tidak ada sedikitpun yang kulakukan saat itu?
Jujur, sampai sekarang Aku selalu ingat dan tidak bisa lupa kejadian di toko emas itu, itu adalah kisah yang paling menyakitkan dan kisah yang paling Aku sesali. Seringkali ketika Aku pulang ke Palembang dan melewati toko emas itu, rasa benciku semakin tinggi dan ingin sekali kudatangi toko emas itu dan menemui si karyawan bangsat itu lalu kupukul karena mulutnya yang telah lancang menghina Mamaku yang naik haji tetapi dibilang tukang maling, dan ingin kucakar seluruh badannya hingga berdarah karena telah membuat Mamaku bersedia untuk ditelanjangi di toko itu demi membuktikan bahwa Beliau tidak salah!!! Hina sekali mulut karyawan itu, niat baik Mamaku untuk naik haji dinodai dengan mulut kotornya. Mama dan papa susah payah untuk mencapai semua itu, kalau saja si karyawan itu tau.
Waktu itu Aku pernah menyumpahi karyawan itu, kelak hidupnya tidak selamat karena menghina Mamaku, entah bagaimana nasibnya sekarang ini, apakah masih jadi penjaga toko emas atau malah menganggur.. Ya semoga Allah memaafkan kelancanganmu itu..
Semenjak kejadian ini, Aku makin sayang sama Mamaku dan berjanji tidak akan membiarkan satu orangpun menghinanya lagi. Ya itu janjiku… Semoga selalu tegar ya Ma.. J