Kamis, 28 Februari 2013

Wong Palembang

Dalam rangka mempopulerkan Sumatera Selatan sebagai tujuan wisata nasional, maka saya ingin menjelaskan tentang orang Palembang. Tujuannya, agar para sahabat yang mengunjungi bumi Sriwijaya itu tidak “salah persepsi” terhadap masyarakat Palembang. Agar tidak terjadi miskomunikasi dan misinterpretasi terhadap orang Palembang.

Pertama, orang Palembang sering mengekspresikan dirinya sebagai orang kuat (lebih kuat daripada Limbad he3x), karena paku dan keris sering dibikin sebagai sayuran. “Paku”, bahasa Palembang, berarti pakis dan “keris” adalah jagung muda (putik jagung). Bagi orang Palembang, jangankan paku dan keris, kapal selam juga jadi sarapan. “Kapal selam”, saya yakin semua sudah tahu, yaitu mpek-mpek yang isinya telur.


Kedua, orang Palembang tidak takut dengan binatang dan apapun yang galak, bahkan sangat senang dengan cewek/cowok galak. Maka kalau para sahabat yang galak datanglah ke Palembang, pasti akan disambut dengan suka-cita…. Galak, berarti mau, suka, atau doyan. Maka kalau di sana, sahabat akan sering ditanya, “galak dak….?” Sebaliknya, orang Palembang sangat benci pada orang yang berbudi (di Palembang dibaca bebudi.). Di sana, bebudi artinya menipu. Inilah mengapa semboyan “SBY Berbudi” terpaksa diganti menjadi “SBY Budiono” (mungkin takut orang Palembang tahu kalau “SBY Berbudi” alias SBY berbohong heheheee…).

Ketiga, di Palembang tidak mungkin ada kasus perbudakan, karena orang Palembang sangat sayang pada budak. “Budak”, artinya anak kecil. Siapa sih yang tidak sayang pada anak kecil? Maka di Palembang tidak mungkin ada “budak nafsu”, karena kalau masih budak tentu belum ada nafsu he….

Keempat, kalau ke Palembang jangan sekali-kali terucap kata ngacok, walau dalam keadaan kesal. Orang Palembang sangat jengah mendengar kata itu dan bagi mereka sangat tabu untuk diucapkan. “Ngacok”, bahasa Palembang berarti melakukan senggama. Maka kalau ada orang mengucapkan “ngacok umakmu”, pasti ujungnya berkelahi, bisa jadi sampai berakhir dengan pembunuhan.

Kelima, kalau mau naik kenderaan umum, tidak usah ragu kalau disarankan “naik taksi”. Ongkos taksi di sana sama dengan ongkos angkot, karena orang Palembang sering menamai angkot itu dengan “taksi”. Misalnya kalau disarankan, naik taksi dari Ampera ke Tanggo Buntung, artinya naik angkot dari Jembatan Ampera menuju Terminal Tangga Buntung. Namun kalau naik “taksi”, jangan heran kalau sopirnya bilang mau nunggu atau mau mencari pesisir. Si sopir bukan sedang menunggu atau mencari pantai, karena “pesisir” artinya penumpang.

 
Semoga tulisan ini dapat membantu wisatawan menikmati wisata di bumi “wong kito”. Juga bisa santai bersama orang Palembang dalam menikmati berbagai penganan khas Palembang: sambal tampoyak, pindang Meranjat, pepes lais, tekwan, lakso, burgo, dan aneka mpek-mpek: mpek-mpek dos, lenjer, tunuh, jangat, lenggang, dan kapal selam!
 
 
sumber : http://arje.blog.esaunggul.ac.id/orang-palembang/

Senin, 25 Februari 2013

Allah tidak tidur, Dia selalu ada didekat Kita

Sahabat, mungkin judul blog Saya diatas sudah seringkali kita dengar dari orang-orang yang juga merasakan keberadaan Yang Kuasa di sekitar kita. Saya tulis seperti itu, karena semakin hari Saya juga sangat merasakan tangan Allah selalu membimbing Saya memilih jalan yang baik.
Jika kita merujuk pada suatu tingkatan, katakanlah ada level A, level B, level C dan level D. Maka Saya merasakan posisi saya sekarang masih pada level C. Sedikit cerita, Dengan gelar Sarjana Komunikasi yang saya dapatkan dari Unpad Bandung pada tahun 2011 lalu. Kemudian setelah lulus, saya mencoba mencari pengalaman belajar bahasa inggris di Kampung Pare, salah satu sentra belajar bahasa inggris di Kabupaten Pare Kota Kediri Jawa Timur dan sembari mengeksplor Jawa Tengah dan Jawa Timur selama sebulan. Lalu kembali lagi ke Kota Bandung melakukan persiapan ini dan itu dan juga mengemas barang-barang Saya untuk dibawa ke Palembang. Oh iya,kembali lagi ke Palembang bukan keinginan Saya melainkan ada desakan dari orangtua dan saudara juga. Jadi, waktu-waktu yang tersisa sebelum akhirnya pulang, Saya pakai untuk bersenang-senang dengan para sahabat dan teman dan juga menyusun rencana strategis kegiatan saya di palembang nanti. Dulu saya merasa, bahwa komunikasi di kota Palembang belum begitu berkembang, maka dari itu saya punya cita-cita seperti ini “ Nanti kalau Saya pulang lagi ke Palembang, saya ingin Komunikasi menjadi eksis disini, saya ingin menjadi presenter, saya ingin menjadi terkenal, Saya ingin jadi pembicara di seminar-seminar komunikasi, Saya ingin menjadi akademisi, praktisi, pengamat komunikasi dan aktif menulis hal-hal seputar komunikasi di media-media di kota Palembang. Kemudian Saya dirikan Organisasi Komunikasi, menjadi wirausaha, lalu menikah berkeluarga tetapi tetap dengan kesibukan di dunia komunikasi. Pokoknya semua yang berbau komunikasi mau saya babat”. Ya itulah kurang lebih keinginan saya pada saat itu. Semangat yang membara, luar biasa sekali. Seolah-olah semuanya itu sudah siap padahal “kunci” nya pun belum ketemu.
Tapi kemudian, ada satu hal yang saya takutkan pada saat itu. Teman dan Jaringan. Dua hal itu yang sangat saya takutkan. Karena Saya merasa Sahabat dan teman saya waktu itu baru sampai batas teman dan sahabat semasa SMA saja yang terjalin, jaringan yang luas belum saya dapatkan karena dulu saya meninggalkan Kota Palembang dalam keadaan diri Saya yang sangat pemalu untuk berinteraksi dengan orang-orang baru.” Jadi, kalau Saya pulang ke Palembang bagaimana cara Saya untuk mengepakkan sayap itu??”. Rasa takut yang seperti itulah yang selalu menghantui Saya. Bagaimana cara saya membuka celah untuk memulai? Waah dulu pokoknya saya bingung sekali harus bagaimana.
Saya minta sama Allah dalam Doa Saya, “Ya Allah saya punya banyak sekali keinginan tapi keadaannya seperti ini, tolong bantu Saya untuk terus meyakinkan dan menguatkan diri bahwa saya bisa melewati masa-masa sulit ini”.
Singkat cerita, akhirnya saya sudah sampai di Kota kelahiran Saya, Kota Palembang. Satu bulan pertama, saya lalui dengan “Fase galau”. Galau dalam artian, semangat belum muncul, teman belum banyak, mencari kerja ga mood. Karena Saya masih merasakan diri saya di Kota Bandung. Dirumah, saya dibatasi jam, selalu ditanya terus kegiatan saya mau kemana, dengan siapa, berapa lama, dll.
Tapi di sela-sela waktu itu saya tetap harus move-on, cari kerja, dan keluar dari kegalauan itu bagaimanapun caranya. Karena pada saat itu laptop saya rusak dan tidak ada komputer dirumah, warnet selalu menjadi alternatif saya untuk mencari informasi. Saya ingat sekali, waktu itu saya sedang online facebook dan membuka grup PPI. Disana  ternyata Kak Okta mem-posting tentang informasi  lowongan pekerjaan sebagai Presenter. Pastinya dong, saya langsung “Ngeh dan Join” lowongan itu. Waktu itu, saya ga mikirin gajinya berapa, itu TV apa, yang ada di otak saya, saya mau jadi presenter dan terkenal.
Kalian tahu PT. SkyTV Palembang???
Jadi, berdasarkan data yang Saya contek dari Mbah google:
“Sky TV adalah sebuah stasiun televisi lokal swasta yang didirikan pada bulan Januari 2006. Saat ini, Sky TV dimiliki oleh MNC Media yang jangkauan siarannya meliputi Kota Palembang dan sekitarnya. Sky TV berada di Channel 44 UHF. Program dari Sky TV hampir keseluruhannya me-relay acara dari TV saudaranya yaitu SINDOtv”.

Jadi, Skytv ini ternyata adalah anak perusahaannya MNC Groups yang bergerak di bidang pertelevisian. Di Kota palembang sendiri baru ada 4 stasiun TV yaitu TVRI Sumsel babel, SriwijayaTV, PalTV dan SkyTV.

Pertengahan Februari, Saya mulai melakukan casting disana. Meliputi News Caster, Voice Over dan Reporter. Jujur sih saya ga sama sekali berpengalaman dalam bidang ini, karena saya memang ga belajar ini dalam kuliah. Saya kan Jurusan Manajemen Komunikasi, kalau yang berbau TV-TV gitu lebih banyak di jurusan Jurnalistik. Jadi, dengan kemampuan alakadarnya, ternyata saya masuk syarat untuk menjadi seorang penyiar TV. Horeeeee.. Seneng ya pasti iya karena apa?? Karena saya pikir orang sedingin dan se pemalu dan se diam saya, apa mungkin bisa tampil di layar kaca? Dan saya pikir, yang pantas jadi presenter itu Cuma orang-orang kayak artis gitu. Tapi mungkin Allah punya sesuatu dibalik ini. Yang tadinya saya pikir tidak pantas, Allah mencemplungkan saya ke dalam TV ini untuk melihat dan membuktikan saya pantas atau tidak.

Dan setelah beberapa bulan saya lalui disana, Saya pantas kok. Terbukti hampir semua program dipercayakan kepada saya untuk dibawakan, Acara Dialog “Biztalk” yang membahasa seputar dunia bisnis di palembang dan Sumsel, “Lunch Topik dan “Jurnal Minggu” yang merupakan acara berita, Dialog kesehatan, dan lainnya. Dan Saya juga menjadi Voice Over untuk tiap berita dan program lain yang tayang. Malah Kepala Stasiun disana juga langsung ngobrol 4 mata dengan saya, meminta saya untuk menjadi karyawan disana. Melalui SkyTv inilah saya baru tahu, bahwa suara saya bagus untuk jadi voice over, bahwa saya bagus bersosialisasi. Pujian-pujian itu yang membangkitkan semangat saya, dan mulai membantu saya untuk menemukan siapa saya. Semua orang disana juga baik-baik sama saya, mulai dari produser-produsernya, desain grafis, editor, sampe ke OB dan cleaning service semuanya dekat dengan saya. Di SkyTV inilah titik awal saya mendapatkan kepercayaan diri kembali, mendapatkan kekuatan dan semangat baru. Gaji saya disini dibayar berdasarkan seberapa banyak jadwal siaran saya yang ditayangkan. Jumlahnya tidak besar loh, Cuma beberapa puluh ribu saja per siaran, Selain tempatnya yang jauh dari rumah, dan gaji kecil. Jadi ya balik modal aja intinya, hehehhehee.

Tapi kemudian Saya mulai mencari peluang lain di dunia Presenter, saya mencoba melamar di TVRI Sumsel Babel. Dan hasilnya Saya juga lulus bersaing dengan hampir seratus peserta, dan dari 5 Presenter terpilih, salah satunya adalah saya. Beberapa program yang saya bawakan adalah “Warta Daerah” program berita sore TVRI yang tayang setiap hari, “Publika” yang merupakan dialog Publik mengenai politik, sosial, ekonomi, budaya, olahraga, dan lain-lain, Kemudian ada “Inovasi” merupakan acara penemuan-penemuan teknologi baru ynag sedang ebrkembang, “Lensa Olahraga” sebuah acara olahraga seputar palembang dan Sumsel, “Klinik Tani” acara tentang pertanian (karena Sumsel ini lahanyya banyak digunakan sebagai lahan pertanian), dan juga “Live Cross” acara berita yang menyiarkan berita-berita kiriman dari masing-masing Provinsi di Indonesia yang ditayangkan dalam program berita TVRI Nasional setiap harinya. Ya walaupun durasi tayanga Live cross nya sedikit, paling tidak muka saya udah beberapa kali nampang di TVRI nasional. Selain itu, beberapa pimpinan bidang di TVRI SS juga beberapa kali mengarahkan dan menawarkan saya untuk bekerja disana, karena mereka ternyata melihat potensi saya. Tapi ternyata umur saya siaran tidak panjang, hanya 6 bulan saja. Sedih ada. Tapi lebih banyak pelajaran yang saya dapatkan dari proses belajar saya sebagai seorang presenter. Mulai dari Februari 2012 sampai November 2012...

Meniti karir awal sebagai presenter selama kurang lebih 9 bulan, Allah membantu membuka jalan bagi Saya untuk mengokohkan pondasi dan  masuk ke langkah selanjutnya lagi agar lebih semangat dan lebih konkrit lagi.

Allah menjawab Doa Saya dengan cara-Nya..
Hal ini terbukti dengan apa yang Saya dapatkan sekarang ini:
1.   Awalnya Saya seorang yang pemalu dan pendiam. Tapi karena saya mencoba pekerjaan sebagai presenter, paling tidak saya sekarang sudah berubah menjadi lebih baik lagi karena seringnya tampil di depan layar kaca, berinteraksi dengan banyak narasumber, karyawan, masyarakat sekitar, dan lainnya. Hal itu memaksa saya untuk berani berbicara di depan umum.
2.   Awalnya saya tidak pernah memperhatikan penampilan saya untuk berhias. Semenjak menjadi presenter, saya banyak belajar bagaimana tampil cantik dan bersinar di depan umum, bagaimana cara make up yang baik, dan tampil rapi di tengah-tengah orang. Semuanya itu saya pelajari karena seringnya saya tampil di depan layar kaca yang harus selalu kelihatan cantik dan fresh dan juga seringnya bertemu dengan orang hebat dan besar dan juga menjadi MC.
3.   Awalnya saya dulu mana bisa berbicara di depan umum. Nyatanya bekerja sebagai presenter membuat saya sudah berbicara di depan ribuan orang. Yup, sebagai MC (Master of Ceremony) saya yang mengontrol jalannya acara dari awal hingga akhir. Bayangkan saja kalau MC sebuah pernikahan, tamu undangan yang datang ada 800-1000 orang. Untuk puluhan acara dimana saya yang jadi MC, berarti udah lebih dari 8000 orang dong. Luar biasa angka itu untuk saya.
4.   Awalnya saya tidak punya kebaya pesta. Karena saya emang ga pernah mau pake kebaya kalau kondangan. Seinget saya punya kebaya ada 2 itupun karena kakak perempuan saya nikah, lebih dari itu saya ga pernah buat. Dan nyatanya setelah menjadi Presenter dan MC, saya sekarang memiliki beberapa kebaya. Luar biasa juga untuk saya.
5.   Awalnya saya hanya bermimpi bisa berkenalan dengan orang-orang hebat. Nyatanya semenjak jadi Presenter Saya sudah mewawancarai banyak orang hebat. Saya pernah wawancara Anggota DPR-RI, Ketua DPRD Sumsel, Wakil walikota Palembang, Para pengamat, Ketua-ketua organisasi, Ketua KPU, ketua MUI Sumsel, pengusaha dan banyak lagi. Bagi saya, dulu saya mana pernah terpikir bisa ngobrol dengan orang-orang seperti mereka karena saya belum ada materi yang mau saya bicarakan dengan mereka. Tapi, bekerja sebagai presenter membuka besar peluang tersebut.
6.   Awalnya saya tidak banyak memiliki jaringan. Nyatanya setelah menjadi presenter, saya berkenalan dengan banyak sekali orang, dan saya memegang nomor kontak mereka. Sebenarnya tidak terlalu banyak efeknya, tapi dengan memiliki banyak jaringan, saya merasa bahwa saya berada diantara mereka, mugnkin saja suatu saat saya sedang perlu sesuatu bisa dibantu oleh mereka, informasi-informasi yang tadinya saya bingung dapetinnya darimana, ternyata malah datang dari mereka. So, punya jaringan yang luas itu baik loh. Itu menunjukkan sejauh mana aktualisasi diri kita.
7.   Awalnya saya kurang PD. Melalui Presenter ini, kepercayaan diri saya lebih meningkat. Tapinya takut ini takut itu. Tapi kalo sekarang “sudah lebih ada nyalinya” hehehe.
8.   Awalnya saya pikir mana bisa saya jadi akademisi. Melalui Presenter ini, saya ingat sekali. Kalau di TV kedua tempat saya bekerja, salign bersaing antar presenter itu biasa. Yang A ga suka sama B, begitu juga sebaliknya. Tapi dari dulu saya sudah terbiasa untuk netral, dan tidak ikut campur keduanya. Saya lebih suka mendengarkan cerita mereka, dan yang jelas tidak menyampaikan diantara keduanya. Malah melalui salah satu teman penyiar inilah, Dia sudah penyiar senior di TVRI, ada beberapa yang ga suka, tapi saya tetap mau komunikasi yang baik, ya kita cerita-cerita tentang ini dan itu. Nyatanya, dari Dia inilah saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar (walaupun masih lingkup kecil anak SMA), saya diajak mengajar paruh waktu setiap hari sabtu di SMAN 5, almamater saya dulu. Disini kami mengajar Kewirausahan Presenter yang didalamnya melingkupi Public Speaking juga. Bagi saya, inilah langkah awal saya untuk belajar menjadi seorang akademisi. Sekarang ya masih lingkup kecil, tapi kalau saya banyak belajar dari sini, saya mau melanjutkan s2 dan bisa jadi nanti saya jadi Dosen kan. Kabar baiknya lagi, sabtu kemarin Kami berdua juga diajak bergabung untuk mengajar di SMAN 1 juga. Dan usut punya usut kita berdua jadi semangat, siapa tahu ini bisa terus berjalan dan banyak pihak yang puas, Kami mau buat EO khusus untuk sekolah-sekolah. Jadi menurut saya, Allah membantu saya melalui Kakak ini. Saya juga banyak belajar dari Kk ini. Di dalam Wirus ini kami mengajarkan marketing juga. Saya mengajarkan siswa, tapi saya juga belajar dari Kk ini bagaimana jadi marketing dalam scoop yang kecil.
9.   Oh ya, satu lagi... saya juga dapet pasangan dari proses menjadi presenter ini,,, Hehehehee dan Dia sampai sekarang masih bersama saya, Paling tidak Dia adalah orang terdekat saya saat ini...

Ya kurang lebih, itu yang sudah Allah berikan kepada saya. Mungkin masih ada lagi, tapi sekarang saya lupa apa saja itu.

Oh ya, dulu saya bercita-cita ingin buka bisnis juga. Beberapa bulan yang lalu, saya selalu mencari-cari apa ya bakat saya yang bisa saya pakai untuk jadi bisnis. Dulu saya suka menggambar dan gatau bisa jadi bisnis apa nggak. Melalui Vina, finalis IMB, saya belajar bahwasanya, just do it, dan ayunkan tanganmu utnuk emnggambar. Saya coba deh, kemarin temen saya sudah ada yang order lukisan glitter punya saya. Paling tidak saya sudah menemukan satu, harus terus mencari cara agar bisnis ini bisa terus berjalan sambilan dan semakin banyak peminatnya.

Dan setelah berhenti menjadi presenter, saya bekerja di sebuah perusaahn IT, disini posisi saya sebagai Admin. Sebelumnya saya belum pernah mendengar nama perusahaan ini. Tetapi saya tergerak untuk menjalani segala jalan yang diberikan Allah kepada saya. Saya jalani dulu, dan saya betah kok disini. Saya banyak belajar juga tentang dunia IT dan hal-hal lainnya. Sembari bekerja, karena disini ada fasilitas internet, Saya juga bisa produktif untuk menulis isi blog saya.


Jadi, dulu saya berdoa dan berangan-angan. Senin-Jumat jadwal saya bekerja di perusahaan, Sabtu dan Minggu kegiatan have fun, disamping itu saya memiliki bisnis sampingan juga. Dan sekarang melalui proses yang panjang dan jatuh bangun juga (menurut saya). Saya sudah bekerja di perusahaan Senin-Jumat, mengajar pada hari Sabtu, Hari Minggu waktu untuk keluarga dan  orang terdekat, dan juga kadang-kadang amsih menajdi MC walaupun sudah tidak di TV lagi.
Seperti yang saya tulis diatas, sekarang saya berada pada level C. Karena saya merasa semua yang diberikan ini baru proses awal, belum mencapai kemapanan, dalam artian saya masih belajar dan  belum expert bener. Saya harus mensyukuri ini, dan terus berusaha membuat ini menjadi mapan dan lengket dalam diri saya.
Dan yang saya tahu sekarang, Allah memang benar tidak tidur. Saya minta diberikan teman yang banyak, Allah kasih itu. Saya minta pekerjaan dan lainnya, Allah kasih itu. Allah aksih jalan bagi saya untuk memulainya. Allah kasih saya “bekal”. Ya, dengan bekal itu saya bisa seperti saya yang sekarang. Dan saya tidak cukup berpuas diri dengan keadaan yang sekarang, harus tetap selalu berusaha menjadi dan mendapatkan yang lebih baik lagi. Aamiinn..

Allah tidak tidur, Dia selalu ada di dekat Kita J

Kamis, 21 Februari 2013

Cerita 1 di Kantor (Bersambung>>>)

Setelah semuanya terjadi kemarin.. Lanjut cerita, siangnya suasana berubah. Saya memang lebih suka menghabiskan waktu di meja saya daripada kesana kesini. Satu per satu dari mereka tiba-tiba ke meja saya, agak aneh sih awalnya, tapi gapapa kok, sekantor kan emang harus jaga hubungan baik. tar yang 1 ada yang cerita ttg problemnya, saya bantu kasih masukan. Yang 2 katanya bosen didalem, jadi ngajak ngobrol saya, yang 3 juga gitu. Berasa aneh, tapi seneng juga sih. Mungkin mereka nyadar juga kali ya ga enak sama saya. Sebelum jam makan siang saya pastikan bahwa printernya masih belum bisa dipakai untuk scan (saya tanya sama satu orang disana, dan katanya emang gabisa harus diisi dulu tintanya). Okay jadi saya masih belum bisa scan, eh tapi ternyata pas pulang ke kantor katanya udah bisa dipakai scan, kata dia "karena sama cewek makanya gamau kali". Eeemmm Saya no comment aja deh, males adu argumen atau apa.

Jam makan siang saya keluar bersama teman baru yang saya ajak kenalan dari bank sumsel. yang 1 namanya Anggun resepsionis BSB, yang 2 namanya Graflin sekretaris GM BSB, kita meluncur pakai mobilnya Anggun ke rumah makan "Ayam bakar Mas Kumis". enak juga ayamnya, porsinya gede dan harganya terjangkau. Dan tentunya, saya punya temen deh sekarang walaupun di instansi berbeda tapi satu tempat yang sama. Kalau kita ga mulai membuka diri, orang lain jangan harap mau membuka diri juga. Thats the best point i got.

Detik demi detik waktu terus bergulir, Saya juga belajar banyak dari kantor ini. You must look proffesional and smart intinya. Kerjain apa yang menjadi jobdesk kita, bantu orang lain sebisanya kita, and Don't over reacting. SEKIAN

Rabu, 20 Februari 2013

Cerita 1 di kantor

         Kerja dengan lingkungan sekitar adalah cowok semua sudah biasa sih. tapi baru kali ini dapetnya sama semua orang IT, disini mereka sebagai Teknisi. Pada dingin-dingin semua, dan Saya bingung mengakrabkan dirinya bagaimana. Kalau saya sih, seneng ya ketemu orang-orang baru dan mulai dengan cerita-cerita baru, pengalaman baru, informasi baru, dan lain-lain. Cara mengakrabkan diri yang paling ampuh itu, beri senyum ke mereka, ajak ngobrol yang ringan-ringan dan tidak lupa untuk selalu menyapa kalau ketemu mereka. Iya, sudah dilakukan semuanya. Tapi ternyata karena perkenalan baru sebentar, Apatisme nya masih tinggi.

         Mau cerita sedikit pengalaman pagi ini. Awal ceritanya begini, kemarin dikantor, tinta untuk printer habis. kebetulan dikantor pakai Fuji Xerox. Jadi kalau salah satu tintanya ada yang habis, fungsi lainnya dalam printer itu, seperti scan, fotokopi jadi gabisa dipakai semua. Nah hari ini, saya tanya lagi, apa printer sudah bisa dipakai lagi, ternyata jawabannya belum. saya tanya lah sama salah seorang teman kantor, berarti harus beli tinta ya sekarang, berapa banyak, dan gak ada jawaban yang pasti keluar dari mulutnya, dia cuma bilang iya beli aja tintanya. saya tawarkan kepada teman-teman yang lain "Ada yang mau bantu ga? tempatnya deket kok di deket pasar induk jakabaring". Saya tanya seperti itu, karena dikantor saya cewek sendirian, saya sih mikirnya masa iya masih banyak cowok yang ada dikantor, tapi cewek yang disuruh keluar naik motor beli tinta. itu memang tanggung jawab saya ngurusin ATK kantor juga, tapi kan ada sisi lain yang harus diperhatikan juga ya kan. Dan Respon mereka adalah : "saya gatau itu dimana". Udah gitu doang responnya dooonnnggg.. Saya pikir ya paling nggak responnya yang lain, ada kesan mau bantu. Kalau jawabannya gitu kan, berarti menutup diri untuk membantu. Saya senyum dan mengambil keputusan sendiri. "Oke, kalo gitu saya aja yang belinya". Seketika Saya langsung membalikkan badan untuk kembali ke meja saya mengambil dompet dan uang. Daaann asemnya ya, pas lagi mau balik badan, agak sedikit kepleset. Jadi mereka kira saya marah. Ada satu yang nyeletuk " Yaudah Yani, sini biar Aku yang temenin beli tinta printer nanti kamu nangis lagi". OH MY GOD, maksudd looo? emosi ya pasti  iya dibilang kayak gitu. Tapi Saya jawab aja " Ah ga nangis kok, kalo emang mau nemenin ya ayook". Padahal ya, emang nyesek banget pas dia nyeletuk gitu.
         Akhirnya Saya pergi beli tinta ditemenin satu orang cowok, tokonya di ruko deket pasar induk. Saya beli 2 siapa tau tar habis lagi. Dan sesampainya dikantor, mau mulai dipasang, baru mereka bilang, ternyata saya beli tinta yang salah, Harusnya yang bubuk bukan yang cair. Ada perasaan ga enak juga pas dibilang salah beli tapi ya pada saat itu saya kan tanya beli yang gimana, tapi ga ada jawaban yang pas. Baru ada satu orang lagi yang bilang "Kalo laser pakai yang bubuk". Dalam hatiku "Hei, kenapa ga bersuara daritadi sih, giliran udah begini, baru bilang". Saya mengakui saya salah, dan tintanya saya ambil untuk saya sendiri, uang nya saya kembalikan utuh. So, kantor ga ada yang dirugikan kan, ya inilah awal untuk terus menemukan cara bahwa saya harus betah disini. Sedikit berselisih itu biasa, harus dibiasakan saja apalagi di tempat kerja.

         Ga usah berpanjang lebar ceritanya. Intinya mulai sekarang, mulai hari ini dan detik ini juga. BERUSAHA SENDIRI. Diinget baik-baik, berusahalah sendiri dulu seolah-olah tidak ada orang di sekitar yang membantu, jadi jangan punya pikiran juga kalau mereka mau bantu. Akan sangat menjadi susah sekali sebenernya kalau dikantor tapi pada apatis semua. Pada ga mikirin sisi lain kalau Saya itu cewek! Tapi okelah, mereka udah mulai kayak gitu duluan, Tapi saya harus tetap mencari cara dulu untuk merangkul mereka, kalo masih gabisa juga, Saya juga akan memposisikan mindset saya sebagai seorang cowok, dan saya akan bantu sebisanya saja, kalau mau lebih, ya saya pikir-pikir dulu deh ya. SEKIAN.

Selasa, 19 Februari 2013

LIFE IS LIKE RIDING MOTORCYCLE

"LIFE IS LIKE RIDING MOTORCYCLE"

Kalimat itu saya dapatkan karena terinspirasi dari pengendara-pengendara motor, ya termasuk saya. Saat sedang mengendarai motor, saya mencoba mengambil pelajaran apa yang didapatkan dari setiap pergerakan yang kita lakukan dimanapun dan kapanpun. Kali ini pelajaran itu saya temukan di jalanan.
Hidup itu sama seperti mengendarai motor. Walaupun banyak kendaraan lalu lalang, banyak mobil-mobil yang saling berlintasan sehingga membuat ruas jalan semakin sempit dan hanya menyisakan sedikit jalan di pinggirnya saja untuk para pejalan kaki dan pengendara motor. Tapi sekali lagi, menjalani hidup itu sama seperti mengendarai motor. Kita tidak tahu apakah jalan di depan yang kita akan lewati berlubang atau malah jalan buntu, tetapi ketika kita melihat sedikit celah untuk lewat diantara mobil-mobil itu, kita yakin dan bisa melewatinya dengan baik, segera menyiapkan ancang-ancang,  menyiapkan diri untuk meng-gas motor dan bruuuuuummmmmmm motor telah berjalan melewati mobil-mobil itu dan ternyata ada lubang kecil di tengah jalan. Setelah melewati mobil-mobil itu, kita baru bisa mengambil tindakan apakah kita akan melewati lubang itu, mengerem mendadak, menyalip sedikit atau malah menyenggol mobil lain. Hasil yang pertama ternyata kita tidak bisa menghindar dari lubang itu, kita terpaksa harus melewatinya dan membuat kita sedikit tersentak. Hasil yang kedua, ternyata kita mengerem dan kemudian melihat spion lalu mengambil posisi untuk menyalip dari samping sedikit untuk menghidnari lubang itu. Hasil yang ketiga, ternyata kita tidak bisa menghindar, ada niat ingin menyalip malah menyenggol mobil atau pengendara moitor lain dan harus berhenti sebentar karena ada sedikit adu mulut. Ya dari semua hasil itu, kira-kira seperti itulah gambaran ketika kita sedang mengendarai motor. Ada istilah "Unpredictable Action" dan itulah yang kita lakukan pada saat kita mengendari motor, hal itu spontan terjadi.
Begitu pula dengan menjalani hidup, kita hanya boleh terus berusaha terus berusaha dan terus berusaha. Kalau kita terus berusaha kita baru akan tahu ada apa di depan sana, apakah sesuatu yang baik atau malah sesuatu yang mencelakakan kita. Tetapi kalau kita hanya menunggu jalan itu diberikan kepada kita tanpa berusaha, kesuksesan kita hanya akan sampai di batas sana saja, kita tidak akan pernah tahu bahwasanya di depan sana ternyata ada sesuatu yang lebih besar dan lebih baik dari sekedar apa yang kita pikirkan biasa saja. Wallahualam.
Contoh lainnya yang saya rasakan sendiri adalah ketika memilih pekerjaan. Jujur, pekerjaan sekarang yang saya jalankan bisa dibilang melenceng dari pendidikan s1 saya dan dari apa yang saya rencanakan. Untuk bisa menjalankan pekerjaan saya yang sekarang ini, saya sengaja membeli buku pedoman bagaimana pekerjaan ini dilakukan, say bertanya dengan teman kiri dan kanan. Saya belajar rumus-rumus yang sebelumnya jarang saya gunakan. Rasa takut pasti ada, "berani-beraninya mau kerja tapi belum tau bagaimana jobdesk kerjaannya, tar kalau di tengah jalan gabisa ngerjain bisa jadi malu kan". itulah pikiran yang selalu menghantui saya.
Untuk mengurangi rasa takut itu, di tiap waktu luang saya pelajari tentang jobdesk kerjaan saya, saya latih terus sebelum saya mulai masuk kerja. Dan bahkan satu minggu awal masuk kerja saya selalu membawa buku-buku saya itu kalau-kalau saja di tengah jalan, saya gabisa kan bisa buka buku nyari jawabannya. Sakingnya ya..
Dan tahu apa yang terjadi selanjutnya?? Sekarang saya tahu bahwa pekerjaan saya ini kalau dijalani tidak sulit kok. Kita bisa bertanya, kita bisa minta bimbingan. Dan malah saya sekarang menikmati pekerjaan ini. Walaupun orang lain berbeda pendapat dengan pilihan kita, biarkan saja. Jangan sampai hal itu menghancurkan kenyamanan dan impian yang ingin kita capai ke depannya.
Wong kita yang menjalani hidup kok, kenapa repot-repot dengan pendapat orang lain............
ITU maksud saya menulis "LIFE IS LIKE RIDING MOTORCYCLE".
Apapun yang ada dihadapanmu sekarang, takut boleh tapi tetaplah mencari cara agar rasa takut itu berkurang dan coba cari celah untuk mengatasinya..
Duh, pinternya ya saya bisa nulis kayak gini padahal Saya pun tidak luput dari sifat-sifat takut itu. Tetapi sebagai manusia, kita berhak berusaha dan menjadikan hidup kita jauh lebih baik lagi. Saling memotivasi tidak dilarang Agama kok  :)
Selamat membaca...

Undetected Reader

Sebenarnya Saya bukan penulis aktif. Hanya menulis kalau sedang mood saja. Link blog saya ini saya cantumkan pada kolom "info" di facebook saya. Padahal sebenernya Update status juga jarang kok. Tapi tiap kali saya buka Blog saya dan mengecek statistik Reader blog ini, lumayan juga ya sehari bisa antara 10 sampai 25 pembaca, dalam waktu satu bulan, berdasarkan data statistik blog ini juga, pembaca untuk bulan lalu mencapai 600 orang. Saya masih ga nyangka aja sih. Karena blog ini tidak pernah saya publikasikan secara terang-terangan. Toh pun kalau Saya lagi ga aktif di facebook, berarti ga ada orang yang tau atau bahkan ingat toh sama facebook saya ditambah lagi mereka kan cuma bisa liat link blog saya melalui info di facebook itu juga.

Ya artinya gini, kekuatan dunia maya melebihi apa yang kita bayangkan. Yang kita kira adem ayem aja padahal diluar sana sedang berkeliaran. Itulah canggihnya teknologi. Nah apalagi kalau sudah tahu begitu, kenapa ga dimanfaatin aja ya blog ini untuk sesuatu yang bukan sekedar tempat cerita atau tulisan saja, tetapi juga bisa jadi sesuatu yang bermanfaat dan batu loncatan untuk sesuatu. Hanya bermodalkan di share dan diisi dengan hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain juga. Ga ada ruginya juga kan. Tinggal cari cara mau diisi dengan apa dan niatnya sejauh mana untuk tetap konsisten mempromosikan blog ini.

Kalau kata orang : Iseng-iseng berhadiah
Kalau daper hadiah Alhamdulillah, kalau ga dapet ya gapapa, karena ini bukan sesuatu yang dipaksa.

Ayoooo mikirrr mau diapain ya blog ini?
"Think Fast" ceuk urang Sunda mah
Ato "Cemungut" foreigner said :D

Nih niat awal udah ada, tinggal luangkan waktu untuk berpikir dan merancang.

Makasih buat yang suka baca blog saya, kalian yang membuat saya lebih semangat lagi untuk menulis..
Ganbatte!!