Jumat, 28 Maret 2014

Anak Muda : Masa Aktualisasi Diri

Saya belum merasa banyak pengalaman, tapi saya belajar Dewasa. Dewasa dalam pemikiran, dewasa dalam tindakan, dan dewasa dalam ucapan.

Dulu saya juga merasakan ego menjadi anak muda, yang identik dengan dia yang paling benar, yang paling hebat, yang paling tanggap, yang paling cepat, yang paling mengerti, dan yang paling merasa lebih serta menjalankan hidup dengan slogan "enjoy your life, lakukan apa yang bisa". Apalagi kalau kriteria seperti itu masuk kedalam dunia kerja, yang dirasa adalah akan banyak hati yang mungkin tersakiti, dan ada juga yang akan merasa terbantukan dengan sosok seperti itu.

Selesai masa kuliah, kemudian masuk ke dunia pekerjaan dan lingkungan yang berbeda. Pola pikir akan berubah. Pola pikir sudah bukan mencari jati diri lagi, tapi untuk membuktikan jati diri. Hal seperti kriteria itu terkadang tidak terlalu dibutuhkan sepanjang waktu. Hanya pada saat situasi tertentu kita butuh kriteria itu.

Di posisi umur saya sekarang, jika melihat sosok kriteria seperti itu. Cukup tertawa kecil saja dan berkata dalam hati.. "Ya ampun, jiwanya masih muda banget, ego masih tinggi". Berlagak seolah yang paling tahu rule dan tempatnya. Hanya saja saya memilih diam daripada harus berselisih pendapat dengan anak muda yang punya ego tinggi. Saya maklumi.

Di umur saya sekarang, hal yang penting adalah mana Hak dan Kewajiban saya saja. Selebihnya menyatu dengan lingkungan dan orang sekitar. Yang bersifat keras tentu akan mendapatkan kecaman dan sorotan tajam dari lingkungan sekitar. Tidak bermaksud mencari aman, namun hal-hal semacam itu tidak begitu perlu lagi. 

Suatu waktu nanti, Aktualisasi diri diperlukan pada tempat dan waktu yang TEPAT, bukan dimanapun Anda berada dan dalam situasi apapun.

Keangkuhan Manusia

Ya Allah, alangkah angkuh manusia di Bumi ini. Padahal apa sih yang perlu dibanggakan? Kecantikan fisik, kemolekan tubuh, kekayaan materi, pergaulan yang luas, kesibukan yang tiada henti... Apa yang perlu dibanggakan? Itu cuma cobaan buat yang memiliki itu.

Pagi ini berasa diangkuhin sama orang-orang..
1. Senyum itu ibadah. ngapain sih harus mahal senyum? cuma sekadar menyapa walau ga kenal? Kalo menurut saya, senyum itu pertanda kita terbuka dan tidak membeda-bedakan siapapun, kita bersosialisasi dengan siapapun. Hai umat manusia, kalo ga mau senyum, apa gunanya bibirmu dipoles warna merah, apke bedak tebel, rambut dipotong rapi, diminyakkin, baju bagus.Semuanya jadi terlihat jelek.

2. Sejujurnya melayani orang itu tidak gampang. Apalagi ketemu orang-orang yang udah kepalang gamau diganggu dan bangga sama almamater perusahaannya. Sehingga ketika bertemu orang yang bukan relasinya dipandang sebelah mata, telpon dimatikan seenaknya, bicara kasar membentak seenaknya, menyalahkan seenaknya. Tidak ada kata pembuka maupun penutup yang baik dan enak didengar. Kesellll.. Dia emang Pimpinan, tapi ya masa iya..., Analoginya gini. A pesen barang ke B untuk disewakan ke C. Hubungan A dan B jual putus. Tapi B selalu laporan ke D yang memang maintenance barang itu. B melakukan sesuatu atas apa yang ada di list kerjaan dan atas informasi dari D. Lah masa iya si A marah ke B karena ga ngasih tau si C ini udah di maintenance. Secara struktural, B tidak ada kepentingan lagi ke A karena udah jual putus. Sebenranya hemat saya, si A ga pernah update informasi dan cuma ngurusin berapa banyak yang dibayar sama si C. Masa baru setahun, ketahuan dan marah-marah? nanyanya ke B lagi.. itu namanya Jaka Sembung Bawa Golok, Ga Nyambung Gob...  Dan si A seenaknya muncratin amarahnya sama saya, rasa ga terima ada, kesel pasti.

3. Melakukan kebaikan untuk orang lain, kadang tidak dianggap Baik untuk orang itu sendiri. Jujur ya, dikantor ini saya hampir ga pernah perhitungan sama duit. Kalau lagi ada duit, teman-teman lagi butuh, saya pinjemin walaupun itu tugas kantor. Beli apapun saya pake duit saya dulu. Sampe pernah, duit saya udah habis, tim saya harus berangkat, tapi duit dr kantor belum dikirimin, Saya sampe pinjem ATM Papa saya, pernah juga saya minta tolong RF untuk pinjem duit demi agar dan supaya pekerjaan tetap berjalan. Saya nyusahin diri sendiri, Saya berapa kali minjemin temen saya duit, apalagi kalau akhir bulan, saya tau mereka lagi gak ada duit buat makan. Saya traktir. Cuma kok rasanya  masih gitu ya sama saya. Ga inget banget apa kalau gak saya bantu, nasibmu gimana kalau lagi ada susah.. Ikhlas dan ga jerah buat selalu nolong selagi bisa. Tapi suka kepikiran aja, kenapa kebaikan itu ga tertanam didalam hati mereka. Tapi kalau ada yang mengajak mereka senang-senang, eksis makan-makan, ngajak yang happy-happy, selalu dikenang terus. Kalau saya diajarin orangtua saya, yang paling harus diingat itu, orang yang bantuin hidup kita saat kesusahan, karena mereka yang telah membantu kita melewati masa-masa kesusahan sehingga mendapat kebahagiaan setelahnya. 

Ya Allah, sabar-sabar aja ini hidup. Semoga semua kebaikan yang saya perbuat mendapat pahala dan bermanfaat buat orang lain. Kalau ada yang salah tolong dimaafkan dan diperingatkan supaya saya kembali menapaki jalan yang benar. Engkau yang Maha Tahu semua hal yang terjadi diantara Hamba-Mu.. Semoga hati ini tidak pernah jerah untuk membantu dan dilipahi rejezi yang banyak supaya bisa memupuk pahala yang lebih banyak pula. Aamiin Ya Robbal Alamin..

Selasa, 25 Maret 2014

Hidayah Hijabku : Manusia yang mencari, Allah yang menunjukkan

Alhamdulilah dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri Tahun 2013, saya resmi memakai penutup kepala, yaitu Hijab..

Saat ini saya masih menyebutnya Hijab atau kerudung, karena saya belum benar-benar memakai Jilbab Syar'i seperti yang diperintahkan.. Namun, seiring berjalannya waktu, saya akan sedikit-demi sedikit mendekati Perintah itu.

Awalnya dimulai dari Tahun 2007 mulai ada keinginan untuk memakai Hijab. Mulai kuliah, jaringan pertemanan saya juga semakin luas dan banyak dari kalangan Ikhwan dan Akhwat. Ya dulu saya terbiasa berada di lingkungan mereka. Banyak yang menyemangati saya untuk segera memakai kain penutup kepala ini. Sampai Tahun 2013, niat itu juga belum terlaksana, dengan banyak alasan yang menerpa.

Sampai akhirnya selesai lebaran, Tanggal 12 Agustus 2013, Hari pertama masuk kerja. Selesai mandi, tiba-tiba entah tangan bergerak sendiri pengen nyobain jilbab. Kira-kira aku cantik ga ya kalo pake jilbab, kira-kira bagus ga ya aku pake jilbab. Ga ada rencana sedikitpun. Tapi emang malemnya sebelum tidur, sempat kepikiran kira-kira besok siap ga pake jilbab??. Dan sempet berdoa sebelum tidur "Ya Allah, jika memang Aku harus berjilbab, tolong kasih petunjuk besok bisa dengan bangun lebih pagi sehingga Aku mempunyai cukup waktu untuk berdandan menyesuaikan jilbab dan pakaian". Kemudian tidur. Besoknya emang bener bangunnya agak lebih pagi, cuma firasat belum kasih tanda apa-apa..

Detik-detik menjelang mau berangkat kerja sekitar Jam 07.00 WIB. Tambah bimbang, pake enggak, pake enggak. Dan akhirnyaaaaa.. "Bismillah, aku coba pake untuk kerja hari ini, dan semoga tidak ada penyesalan setelahnya". Orangtuaku kaget lihat penampilan baruku, dan bilang "Kalau sudah yakin, pake terus jangan dilepasin. Cantik kok pake jilbab". Dan semakin mantaplah hati ini memakai Jilbab.

Iya, Hidayah itu ga dateng sendiri tapi dicari. Semakin kuat niat kita, hidayah semakin dekat. Itulah yang saya alami. Dulu selalu berkilah, Ah nanti saja nunggu dapet hidayah. Ah nanti dulu nunggu lahir dan batin siap. Ternyata kuncinya, Hidayah itu dicari, diselidiki, didekati, dan didalami..

Malah sekarang kalau sedang jalan dan liat yang ga berhijab, ada rasa kasihan. dan berpikir "Ya ampun sayang banget kamu (cewek) ga menutup aurat di depan umum". Tapi terlintas juga, wah jangan-jangan dulu sebelum saya berhijab, orang-orang yang lebih dulu berhijab berpandangan dan berkomentar yang sama juga ke saya ya.

Semakin hari saya semakin yakin, Hijab ini memang sangat baik untuk menjaga kaum hawa dimanapun berada. Sebelum berhijab mungkin orang menilai kita, alangkah seksinya. Semenjak berhijab orang menilai, alangkah beruntungnya lelaki yang nanti akan mendampinginya. Enak yang mana coba? yang nomor 2 lahh... Berarti kita itu dinilai bukan hanya dari paras saja, tapi dari kecantikan yang terpancar melalui Hijab itu sendiri.

Awal menggunakan Hijab, saya sangat suka dengan mengalungkan bagian ujung jilbab saya untuk menutup bagian leher, tapi bagian dada masih bisa dilihat. ternyata ngerasa ga nyaman. Kemudian saya mencoba dengan mengalungkan satu saja bagian ujung hijab ke belakang dan dijepitkan dengan jarum pentul di bagian atas dekat kunciran rambut, dan bagian satunya dijuntaikan saja. Awalnya nyaman, lama kelamaan ga nyaman juga. Kalau mau pakai Hijab modern yang digaya-gayain, saya belum ahli, jadi sekarang masih pakai model yang biasa saja.

Sekarang, orang terdekat saya si RF sangat mendukung kalau saya pakai hijab yang lebar agar menutupi bagian tubuh saya. Awalnya saya tanya, "Yakin kamu gapapa aku Hijabnya panjang?". Trus Dia bilang, "Iya yakin, malah lebih bagus, supaya cowok-cowok ga merhatiin". Karena dapat dukungan seperti itu, kemana-mana kalau pergi suka disuruh benerin jilbabnya, atau panjangin lagi jilbabnya, baru deh kita pergi. Dan ke kantor juga saya berHijab seperti biasa tetapi menutupi bagian dada agar tidak menarik perhatian lelaki. Sudah lumayan nyaman walau masih belum Syar'i banget. Tapi seiring berjalannya waktu, akan menjadi sangat nyaman dengan menjuntai full..

Malah sekarang, saya lagi coba-coba bikin sendiri Jilbab dibantu Mama saya, Jilbab segi empat bahannya lembut dan kainnya lebih lebar dari jilbab paris yang banyak dijual di pasaran. Sekarang baru nyobain bikin beberapa dulu, rencananya dijual ke temen-temen yang kenal aja. Kalo laris, bikin lagi lah, Hehehee. 

Hidayah yang datangnya dari Allah, pasti selalu menguntungkan, asalkan kita menerima dan tidak takut mencoba :)


Rabu, 19 Maret 2014

Kedua kalinya dia tanya, dan saya jawab

Ini udah kedua kalinya si resepsionis depan nanyain kerjaan saya apa disini pas tadi pagi ketemu di toilet.. entah apa yang dipikirin sama dia. Karena dia wajar untuk menilai, wong tiap hari saya lewat di depan meja dia terus. dan sapa menyapa terus kok..

Penasaran banget kali dia ya liat saya mondar-mandir, pake baju ga seragam, cewek sendirian dikantor, temen-temennya cowok semua, kadang mondar-mandir di lift naik turun entah ke TSI, ke HUM,, Kadang makannya sendirian, kadang sama teknisi, kadang sama orang tsi, kadang sama bos-bos saya, kadang dijemput, kadang naik motor, kadang naik mobil, kadang saya bawa plastik besar isinya kertas A4, kadang bawa map yang ditutupi plastik item karena beli di toko, kadang bawa dus juga, kadang kerjaannya duduk seharian dikantor ngerjain laporan, kadang santai.. bingung kali dia ya, saya ini apa kerjanya, hahahaahahaa.

Tadinya saya cuma senyum dan suruh dia nebak, tapi kayaknya dia penasaran banget. dan saya to the point aja bilang kerjaan saya,  saya koordinator di Palembang sini untuk pekerjaan dengan Bank Sumsel. Kerjaan saya ya semuanya,, apapun yang bisa dikerjain. Tanggapan dia "Oh mbak ini koordinator, ajdi mbak semua ya yang kerjain, ooohh gituuu...". Udah.. Pembicaraan selesai, dia keluar toilet, dan saya juga.

Jujur sih, disini orang-orang yang kenal saya, mereka sangat menghargai saya. Saya jarang menyebutkan posisi saya apa kalau ditanya, karena untuk apa.... yang penting hubungan sosial bagus, kerjaan beres, mereka nyaman dan saya juga. Udah cukup sampe disitu aja poin pentingnya. Kalau yang nanya serius untuk data, baru deh saya tanggepin serius juga.. 

Selasa, 18 Maret 2014

Ku sebut namamu 3 kali, RF RF RF

Walau cuma 3 hari pulang. Tapi sangat berkesan..

Makasih buat RF yang sudah bela-belain pulang dengan segala keadaan yang ada.
Makasih buat RF yang sudah sangat sabar.
Makasih buat RF yang selalu menyemangati saya.
Makasih buat RF yang menunjukkan keseriusannya dengan saya.
Makasih buat RF yang sudah menyatakan beberapa pernyataan yang bikin saya seneng.
Makasih buat RF yang selalu jagain saya.
Makasih buat RF yang selalu meluangkan waktu walaupun dia ngantuk, capek.
Makasih buat RF yang selalu setia menemani kemana saja.
Makasih buat RF yang selalu berusaha mendekatkan saya dengan keluarganya.
Makasih buat RF yang sudah berusaha membuat saya nyaman ketika berada diantara orangtuanya.
Makasih buat RF yang selalu memaklumi kekurangan saya.
Makasih buat RF yang selalu mendengarkan keluh kesah saya.

Saya tungguin sampe kamu selesai prajabnya disana, saya akan menjadi lebih penyabar, lebih penurut, Yang saya pelajari dari kamu dan keluarga kamu adalah : Sabar. Kalau dulu saya nggak sabar, mungkin saya ga akan pernah tahu hasilnya akan sebaik dan senyaman ini sama kamu dan keluarga kamu. Kalau saya banyak mendengarkan kata-kata orang, saya mungkin ga akan pernah sebahagia ini. Saya berusaha sabar dan berusaha mengikuti kata hati saya, dan itu membuahkan hasil sekarang. Semoga pilihan saya ga salah. Biarin orang mau bilang apapun tentang kamu, ga masalah selagi itu ga mengganggu hubungan kita dan kehidupan kita. Pendapat orang beda-beda, belum tentu orang tersebut merasakan kebahagiaan seperti yang saya dapet sama kamu. Orang sirik kali ya, hehehe. 

Sukses selalu buat RF, semoga semua rencana kita bisa dicapai satu demi satu tanpa halangan yang berarti.
Aamiin ya robbal alamin.. 

Banyak orang bilang kita mirip loh, ahhahahaaa. Ngarep beneerrr.. ya udinlah intinya mah.. dijalananin untuk mencapai hasil dan tujuan. Kalo ga dijalanin gatau ujungnya gimana, ya kan RF? :)

Waiting in Palembang with love,
FY




The solution is coming from yourself...

Mama saya selalu bilang. "Jangan pernah nyakitin hati orang lain, jangan berbuat kasar dengan orang lain, kalau kita yang disakiti ya terima saja, sabar, jangan membalas". Kata-kata itu mungkin sudah ratusan kali dilontarkan Mama kepada saya. Karena sejatinya kedua orangtua saya, tidak pernah mencari masalah dengan orang lain. Namun kerap kali orang-orang yang sepertinya tidak tahu diri.

Pada kesempatan kali ini, cuma pengen share aja mengenai beberapa hal yang terjadi..

Sedari saya kecil sampai lulus kuliah, saya selalu berusaha melakukan hal yang dikatakan Mama seperti yang saya kutip diatas. Saya menjadi orang yang sabar dimata teman-teman saya, dianggap sebagai sosok yang tidak mudah marah, sulit ditebak isi hatinya, dan pendiam karena tidak pernah bercerita seputar masalah pribadi saya. Sehingga saya di cap sebagai orang yang "lurus". Cerita saya perpendek sampai dengan selesai kuliah di Bandung saya kemudian pindah ke Palembang untuk mencari pekerjaan disana dan sampai akhirnya bekerja dikantor yang sekarang. Saya merasa orang-orang kok kayaknya pengen dijaga terus perasaannya sedangkan tidak dengan diri saya. Sedikit berbicara cetus, orang sudah tersinggung. Namun dengan gampangnya kata-kata tidak enak didengar keluar dari mulut mereka.

Baru beberapa bulan belakangan ini saya menjadi orang yang cetus, cepat marah dan cepat menyampaikan unek-unek kalau sesuatu tidak saya suka. Pernah ini terjadi mengenai masalah parkir dikantor saya. Kami sebenarnya sudah mendapatkan space untuk lokasi parkir mobil kami. Namun mungkin belum tersosialisasi dengan baik kepada Satpam dan penghuni gedung yang lain. Sehingga terkadang parkiran kami diisi oleh orang lain. Saya Komplain. Saya laporkan kepada Head Security nya bahwa saya tersinggung dan merasa terganggu ketika beberapa kali Satpam gedung meminta saya memindahkan mobil karena parkir di tempat yang lain, bukan ditempat SIP. Saya coba jelaskan ke Satpam, namun sepertinya dia tidak peduli dan melalui HT berkali-kali terdengar kalimat "Amankan SIP" Helloo?? ya saya tersinggunglah dan saya laporin ke Head Security. Besoknya Head Security menelepon dan mengatakan bahwa akan dibuatkan nama khusus parkir untuk mobil kantor kami. Sangat membantu, namun sekarang jadi berasa si Satpam rada sinis sama saya begitu juga Satpam lainnya. Setiap saya mau parkir, mereka bilang "Bu, nanti parkirnya ditempat SIP jangan ditempat lain". Saya jawab "Iya. tadi/kemarin parkir kita diisi orang, nanti saya pindahin". Hemmm.. ada rasa mengganggu ketika mereka bilang seperti itu.

Kemudian pernah terjadi dengan Cleaning Service kantor juga. kami sudah membayar iuran per bulan untuk membersihkan kantor, dan mereka juga sudah diberikan jadwal pembersihannya. Namun, ada beberapa kali mereka tidak piket. Dan pernah saya bertemu dengan salah satu anggotanya di toilet. Kemudian saya tanya " Mbak, kok belum dibersihin kantor kita ya?". Dia menjawab " Iya, kami lagi banyak kerjaan mbak". Agak Jleb denger jawabannya. dan saya cuma bilang "Oh gitu". Saya kembali kekantor dan saya pikir setelah kerjaan mereka selesai, mereka akan segera kekantor. Saya tunggu sampai sore, tidak ada sama sekali yang datang. Dulu, saya diemin. Sekarang setiap mereka "Nakal" saya laporin terus ke Head Cleaning Service nya. Besoknya yang nakal tadi dipanggil dan diauruh bersihin ruangan kami. Dan jadi rada sinis ke saya. 

Saya tuh suka aneh aja, kan emang bener apa yang saja lakukan sesuai prosedur. Yang jadi masalah, mereka yang tidak bisa terima karena sudah ditegur atasannya, dan akhirnya malu. Kalau profesional sih, harusnya bisa menerima ya. Kecuali kalau yang tidak profesional. 

Pelajaran yang bisa diambil adalah Benar apa yang Mama saya bilang seperti yang dikutip diatas. Orang hanya  mendengarkan apa yang ingin mereka dengar. Hanya melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Dan cukup sekian terimakasih.. The solution is coming from yourself..

Kamis, 13 Maret 2014

Zona Nyaman VS Zona Tidak Nyaman

Orang-orang yang bisa membuat saya bangkit dan semangat, adalah:
1. Orangtua
2. Kakak Perempuan saya
3. RF
4. Bagas
5. Kakak Ipar saya
6. Keluarga kandung dari Mama saya

Saya selalu berkeinginan untuk hidup dalam Zona Nyaman. Karena disanalah saya merasakan ketentraman hati dan pikiran. Dekat dengan keluarga dan melakukan hal-hal yang menyenangkan saja. Tapi nyatanya, banyak orang yang bilang "Kalau ingin mengetahui makna Kehidupan, maka harus keluar dari Zona Nyaman". Well, itu pilihan.. tidak harus kita simpulkan saya berada di zona yang mana. Fleksibel lebih baik, dan pasang badan ketika masuk pada zona yang baru. Antisipasi adalah pilihan terbaik ketika berada dalam zona apapun. 

I love them, God..

Senin, 03 Maret 2014

Belajar Memantaskan Diri Sendiri

Cerita sore sebelum pulang kantor lagi..

Hari ini BT pake "hampir banget". Pagi-pagi dah ada sms, minta ip.... tanpa kata tolong. Bukannya gamau bantu, cuman gw aja nih tiap apa-apa ke mereka selalu menyelipkan kata "Tolong" supaya terkesan sopan dan manusiawi. Gw bales aja, lain kali bawa list ip kl ke lapangan diikuti semua ip yang dia minta. Eh dia malah nyerempet ke hal-hal lain seolah-olah pengorbanan dia untuk ngeprint 80 lembar itu mau dibilang "Wah".. Helloooooo.. Gw udah sering kali berkorban disini tanpa inget lagi berapa jumlahnya, dan masih juga dikira uangnya ga dibalikin, enak ga begitu? Lo pernah apa nyuci mobil? bisanya pake doang! selama mobil ini udah hampir setahun., gw yang selalu bawa ke tempat cuci mobil. Gw pengertian karena gw tau kerjaan kalian capek di lapangan, yaudah selagi gw bisa gw yang kerjain. Ga pernah tuh pengen dibilang "Wah" sama kalian sama siapapun. Udahlah ya, gentle dikit.

Trus ada yang ribet, maunya diingetin terus. Hhhhh.... Sering sih gw ngerasa putus asa. Hampiiirrrrr.. Orang-orang maunya kerjaan gw sempurna semua. Hasilnya bagus, tepat waktu. Pernah waktu gw ke jakarta, salah satu teknisi gw minta menggantikan posisi gw untuk 1 minggu. Tapi tetep gw back up dari belakang. Pas balik ke Palembang, dia selalu kasihan kl ngeliat gw udah lepasin kacamata, atau megangin kening, atau ga senyum, atau linglung bingung mau yang mana dulu dikerjain. Dia bilang "wajarlah kalo yani selama ini kayak ini sama kami, aku yang baru seminggu aja udah capek, pusing, rasanya nggak sanggup. Semangat ye yan". Berasa ada tambahan energi ketika ada orang kantor yang ngomong kayak begitu. Terharu dikitt... CUma ga begitu ngebantu.

Dan, lucunya nih, kayaknya gw takut banget kalau ga masuk sehari atau dua hari, karena setelah itu kerjaan tetap menumpuk dan telepon tetap berdering. ga bisa istirahat total. pernah gw sakit, udah pusing banget, naik motor puyeng kayak mau jatoh, gabisa mikir, kepala berat, pilek, idung buntu, kedinginan dikantor karena musim ujan dan AC yang dingin. Dan gw memilih tetap masuk kerja. karena kalo ga masuk kerja sama kayak kerja juga jatuhnya. Sakingnya loh... Ya intinya bingung aja gimana  caranya memaksimalkan yang ada tapi pengen hasil yang rapi dan sesuai yang diharapkan. Dan gw menyiksa diri sendiri. Sampe temen kantor bilang, dari pagi ga berenti-berenti dan belum mau pulang juga, dasar gila kerja. Bukan gila kerja kata saya, karena kalau saya tunda besok, saya lagi yang kena. HHAHAHAHAHHAHAA LUCU.

Tapi bener kata RF, gw orangnya ga tegaan sama orang lain. Sama RF selalu marah-marah tapi kalo sama orang lain selalu dijaga perasaannya. Karena kalau sama RF gw bisa cerita semuanya. Sama yang lain gabisa, karena yang lain angin-anginan, yang lain pengennya dimengerti aja. Ya maafin aja ya RF, semoga mengerti, kamu itu seperti Tangan Kanan, yang bisa menyeimbangkan Tangan Kiriku kalau kita lagi angkat barang. Kalau gda Tangan Kanan, Tangan Kiriku bebannya lebih berat.

Yaa, sekarang gw cuma pengen memantaskan Diri Sendiri saja. Mau lebih Tegas sama apa yang harus gw kerjakan. Temen gw bilang "Kenapa yani hari ini". gw senyumin aja. Hehhee. Ya iyalah lo semua pada nyebelin, nanya mulu. 

Memantaskan Diri Sendiri untuk Hidup yang lebih Nyaman, 
Menghargai Diri Sendiri untuk Hidup yang lebih Bahagia
Mengagungkan Diri Sendiri untuk Hidup yang Ceria

Siapa lagi, kalau bukan Kamu sendiri yang Membuat hidupmu menjadi.... PANTAS..