"Untuk apa ngucapin makasih?" kan itu memang kewajiban dia.
Oh My God, dari dulu gak ada yang namanya memimpin tanpa disukai sepenuh hati. Padahal dalam kehidupan sosial seperti biasanya, ucapan terimakasih wajar kita ucapkan jika kita merasa terbantu oleh pertolongan orang lain. Namun, apakah hal seperti itu menajdi tidak berlaku dengan teman sejawat?
Kalau saya, masih berpegang teguh bahwa tidak ada salahnya mengucapkan "terima kasih" kalau memang merasa terbantu oleh orang lain. Tapi seelah diperhatikan beberapa kali, seseorang tersebut jarang mengucapkan terimakasih kepada orang lain. Ga kebayang alangkah kelunya lidah hanya sekedar mengucapkan itu menajdi sangat berat, seperti beban.
Dan satu lagi yang bikin kaget pas baca bbm, liat seseorang tadi mengucapkan "Terimakasih" pada seseorang lainnya karena modul yang dibuatnya telah membantu pekerjaannya. Tuhan, kalau mau perhitungan, saya ini bukan lagi membantu pekerjaan dia, tetapi membantu perekonomiannya juga.Tapi jadinya lucu, kenapa? Karena saya semakin tahu kualitas hidup orang itu bagaimana.
Padahal, yang menggerakkan agar modul itu tercipta adalah saya, yang punya inisiatif supaya mereka membuatnya adalah saya. Oke, saya hanya berpikir "Cukup tahu saja". Dan tiba- tiba langsung ingat perkataan Mama saya : "Nanti, kalau sudah tidak ada lagi, baru orang bilang kamu baik, orang bilang kamu sudah sangat membantu mereka. Kalau sekarang, bisanya mereka mengeluh, marah, kecewa". Yes Mom, benar sekali!
Hanya perlu fokus kerja kisaran 6 bulan lagi untuk segera mengambil nafas, terlepas dari belenggu tatapan sinis mereka dan diberi hak yang seharusnya.
Sekarang hanya perlu fokus, sabar, teliti, dan hati-hati.Aamiin.Semangat!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar